Selasa, 27 April 2010

Komunikasi Dan Relasi

Bang Kekeng adalah tetangga saya yang berprofesi sebagai tukang pijat yang handal. Setiap hari dia menerima tak kurang dari 5 panggilan untuk memijat, bahkan sampai ke kampung tetangga. Keahlian memijat, dia dapat dari kakeknya yang menularkan secara turun temurun, dan sudah kondang kawenang-wenang di seantero daerah kami, pinggir barat Jakarta. Karena dia seorang tuna rungu dan wicara, maka keahliannya memijat sering terkendala dalam hal berkomunikasi verbal dengan para pelanggannya. Tidak hanya itu, para tetangga selalu bermasalah bila dia datang saat kami ngrumpi di pos ronda atau warung kopi di kampung kami. Bila dia mulai nimbrung ngobrol, maka rusaklah suasana yang semula gayeng tanpa hambatan. Diskusi yang semula lancar dengan bahasa verbal yang mengalir spontan, dan tak jarang ditimpali dengan tertawa lepas tanpa kendali, terkendala karena kami harus melayani bang Kekeng berbicara melalui bahasa isyaratnya. Lain di pos ronda, lain di rumah. Saya pernah mengamati bang Kekeng berkomunikasi dengan isteri dan anak-anaknya di rumah. Pembicaraan berlangsung normal dan lancar, meskipun masing-masing menggunakan bahasanya sendiri-sendiri. Bang Kekeng menggunakan bahasa isyarat plus suara-suara sengau yang tak bisa dimengerti orang normal, isteri dan anak-anaknya menggunakan bahasa orang normal. Bahasa Indonesia khas Betawi. Komunikasi sangat efektif dan berlangsung nyaris tanpa hambatan. Fenomena ini membuat saya heran. Orang yang sama sekali tidak mempunyai communication skill, dapat melakukan komunikasi dengan normal, lancar dan efektif. Dimana rahasianya?


Tiba-tiba saya teringat akan ucapan Ibu Prof. Dr. Dewi Matindas Psi, dosen mata kuliah Komunikasi Organisasi di Fakultas Psikologi UI. Dia mengajarkan bahwa kualitas (ber)komunikasi, 75% ditentukan oleh "relasi" dan sisanya oleh "kemampuan berkomunikasi" (communication skill). 2 orang tidak dapat menjalin komunikasi yang efektif, bila mereka mempunyai relasi yang tidak baik, meskipun masing-masing mempunyai skill yang tinggi. Sebaliknya, meskipun dengan skill yang pas-pasan, orang akan tetap dapat menjalin komunikasi yang efektif asalkan relasinya cukup baik. Bang Kekeng adalah contohnya. Meskipun dia tuna rungu dan wicara, kualitas komunikasi yang dijalin dengan isteri dan anak-anaknya tetap terjaga. Sebaliknya, proses komunikasi bang Kekeng dengan para tetangganya selalu terkendala, karena memang relasi antara dia dengan kami tidak terjalin dengan baik. Para tetangga selalu mempunyai premature assumption yang muncul tiba-tiba, begitu bang Kekeng datang. Kami selalu menganggap bahwa kedatangannya di pos ronda bakalan menganggu obrolan yang sedang dilakukan. Itulah yang membuat komunikasi para tetangga dengan bang Kekeng langsung tertutup. Contoh lain yang sering terjadi adalah bila suami-isteri sedang berantem. Pada saat seperti itu, komunikasi langsung blocked. Apa saja yang diucapkan satu pihak ditangkap salah oleh pihak lain. Hati yang tertutup akan membuat komunikasi juga tertutup, dan akan lancar bila kedua hati sudah saling bertaut kembali.



Ada contoh lain yang membuktikan bahwa communication skill bukan merupakan syarat utama untuk menjalin komunikasi. Bila kita mempertemukan 2 anak kecil yang berbeda bahasa, maka komunikasi akan berjalan. Mereka akan tetap berkomunikasi dan bermain bersama meskipun masing-masing tidak bisa memahami bahasa kawannya. Masing-masing akan berbicara dengan bahasanya sendiri, yang saling tidak dimengerti. Tapi herannya, pembicaraan mereka terus menyambung. Mengapa demikian? Karena jiwa anak-anak adalah suci. Tanpa pretensi, tanpa premature assumption, tanpa curiga dan tidak merasa saling mengancam. Mereka mempunyai hati yang tulus dan jauh dari syak-wasangka. Itulah sebabnya, kualitas komunikasi mereka sangat tinggi dan efektif, meskipun masing-masing tidak mempunyai skill yang dibutuhkan untuk berkomunikasi.



Kalau memang benar hasil penelitian para ahli organisasi mengatakan bahwa 80% masalah organisasi disebabkan karena masalah komunikasi, karena ketidak efektifan komunikasi yang dijalin, karena negative communication atau bahkan sering karena contra productive communication, maka kita harus bercermin kepada hubungan yang dilakukan bang Kekeng dengan isteri dan anak-anaknya. Komunikasi harus dimulai dengan relasi, atau tepatnya relasi yang baik antara 2 atau lebih orang yang harus berkomunikasi. Kita harus mencontoh 2 anak kecil yang berbeda bahasa, tetapi selalu membawa hati yang tulus, bersih dan tanpa pretensi. Komunikasi organisasi memang harus dilandasi dengan prinsip team-focus dan bukan ego-focus. Artinya, harus dilakukan tanpa menempatkan kepentingan diri diatas kerangka komunikasi itu sendiri. Oleh sebab itu, kalau anda merasa bahwa komunikasi anda dengan seseorang atau sekelompok orang tidak efektif atau justru kontra-produktif, maka hal pertama yang anda harus lakukan adalah membuka hati anda dan membersihkannya dari pretensi dan syak-wasangka yang selama ini bermukim di hati anda. Setelah itu baru mulailah berkomunikasi.


Effective Communication always contains excellent humane relationship.


Kegigihan Yang Dibutuhkan

Saya sedang menonton siaran TV di lounge BCA Bidakara, lantai 1, sambil menunggu pelayanan dari petugas customer service, ketika tiba-tiba seorang laki-laki sepuh yang duduk disamping, menegur saya. Terkesan dia berwajah oriental, badannya tegap dan langsing, tinggi sekitar 175 cm dan rambut masih tebal dan berwarna hitam pekat. Meskipun wajahnya cukup familiar, saya tak berhasil mengingat siapa dia. Tak terasa, pembicaraan kami menjadi semakin hangat dan bersemangat. Kami mendiskusikan hal-hal yang sedang in di masyarakat dengan tone suara yang tegas, penuh percaya diri, tetapi tetap ramah. Bapak tadi, tanpa sedikitpun kehilangan semangat, mencoba meng encourage saya, dan juga mungkin dimaksudkannya kepada seluruh bangsa Indonesia, untuk tetap optimis terhadap Negara kita. "Saat ini, banyak orang pinter, tapi sangat sedikit yang mencintai Negara ini". Kalimat ini membuat saya terhenyak dan spontan saya tukas. "Maaf pak, anda ini siapa?". Dengan nada yang semakin percaya diri, dia menjawab : "Saya Tan Joe Hok". Ada kekuatanan dari dalam yang menggerakkan saya untuk langsung berdiri, menghormat kepadanya dan mengulurkan tangan sekali lagi, untuk menjabat erat genggamannya. "Pak Tan, saya pengagum anda sejak 50 tahun lalu". Dan saat itu saya bertemu dengan idola saya yang reportase permainan bulutangkisnya, hanya saya dengar dari siaran RRI. " I am proud of you pak".

Tan Joe Hok memang salah satu legenda bangsa ini. Ketika Indonesia, yang dianggap masih hijau, tiba-tiba mengagetkan olahraga bulutangkis dunia dengan menjuarai All England pada tahun 1959. Dan pahlawan itu bernama Tan Joe Hok. Joe Hok, penyandang minoritas ganda di Tanah Air tercinta ini, ternyata mampu membuktikan bahwa Indonesia mempunyai pejuang kelas dunia, dengan mengalahkan pemain-pemain bulutangkis legandaris dunia, Erland Kops dan Finn Kobbero dari Denmark. Prestasi dunia Joe Hok bermula dari kejuaraan beregu Thomas Cup, 1 tahun sebelumnya, ketika regu Indonesia mengalahkan Malaya (sebelum Negara itu berubah nama menjadi Malaysia) dengan skor telak 6-3. Tan Joe Hok, mahasiswa Jurusan Teknik Kimia, Universitas Baylor, Texas, Amerika, harus membiaya dirinya sendiri, untuk pulang kampung dan membela Tanah Airnya, sebagai duta bangsa di ranah bulutangkis dunia. Setelah itu, masih ada beberapa seri kejuaraan Thomas Cup dan All England yang dijuarainya sampai kemudian dia menjadi pelatih profesional di Meksiko dan Hongkong. Tan Joe Hok mempunyai banyak sweet memory dalam menggeluti olahraga bulutangkis di arena dunia, termasuk dengan Bung Karno, Presiden RI pada waktu itu. Setelah tim Indonesia berhasil menjadi juara Thomas Cup 1961 di Jakarta, Joe Hok segera kembali ke Texas untuk meneruskan kuliahnya dan menyadari bahwa Bung Karno telah mengirim amplop berisi uang USD 1.000,-. Suatu jumlah uang yang besar untuk waktu itu. Tapi apa yang dilakukannya? Melalui Prof Dr Prijono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Joe Hok mengembalikan amplop tersebut utuh, kepada si pengirim. Ya, si pengirim itu adalah Bung Karno, Presiden republik Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi. "Saya sangat menghormati penghargaannya, tetapi banyak anak bangsa lainnya yang lebih membutuhkan beasiswa itu dibanding saya. Saya jauh lebih beruntung dibanding mereka". Saya tidak bisa membayangkan hal itu akan terjadi hari ini.



Tan Joe Hok telah memenuhi semua hal untuk menjadi outliers seperti yang disyaratkan oleh Malcom Gladwell dalam buku best seller Outliers. Dia mempunyai bakat, kegigihan, kecerdasan, dukungan, kerja keras dan kesiapan untuk beruntung. Satu yang menonjol yang dimiliki Tan Joe Hok, bahkan sampai saat ini adalah perseverance. Kegigihan bercampur dengan ketekunan untuk mencapai suatu hasil yang luar biasa. Sulit untuk dibayangkan bahwa Tan Joe Hok akan menjadi legenda bulutangkis Indonesia dan dunia kalau sejak muda dia tanpa kegigihan dan ketekunan. Gigih untuk terus menyiapkan diri menjadi yang terbaik dan tekun untuk tidak cepat menyerah bila mengalami kegagalan. Perilaku ini, ternyata juga menjadi salah satu hal yang tertera di MedcoEnergi Leadership Statement. Suatu perilaku yang harus ditampilkan agar tata-nilai Profesional bisa terwujud. Suatu kebiasaan yang harus otomatis keluar bila kita menghadapi tantangan. Dan kebiasaan yang harus selalu ditanamkan kepada seluruh anggota organisasi. Saya manggut-manggut, tanda setuju, ketika membaca kutipan seorang satrawan besar Inggris, Samuel Johnson tentang hal ini : Great works are performed not by strength but by perseverance.



This Is It

Sabtu, 14 November 2009, pukul 10.30, saya baru saja mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Sambil berjalan dari pesawat ke terminal kedatangan, saya menyalakan HP, ketika tiba-tiba, ada pesan pendek masuk. Telah terjadi major accident di lapangan Soka, Sumatera Selatan. Free Water Knock Out meledak pada pukul 10.58 dan mengenai operator yang kebetulan sedang berdiri didekatnya. Pemompaan minyak dihentikan dan korban mengalami luka bakar parah. Hampir 70% anggota badannya melepuh hangus terkena ledakan. Rio Astomo, demikian nama korban yang naas tersebut, sedang diusahakan untuk diterbangkan ke RS Charitas Palembang dengan helikopter sewaan. Tak urung, saya sibuk menelpon kesana-kemari untuk mencari informasi tambahan sambil mengirim laporan kepada mereka yang berwenang. Saya masih sempat booking pesawat untuk ke Palembang sore harinya, sebelum akhirnya Operation Manager Soka mengirim laporan bahwa kejadian itu merupakan latihan penanggulangan kecelakaan. Drill untuk mengetahui kesiapan dan kesigapan semua personel dalam menghadapi kecelakaan yang moga-moga tidak terjadi.

Drill atau latihan seperti ini, mutlak diperlukan dalam menjalankan bisnis. Ia akan membiasakan kita secara otomatis beraksi, apabila menjumpai suatu kondisi tertentu yang memerlukan suatu reaksi. General Rehearsal atau gladi resik akan melahirkan reaksi yang spontan tapi terencana, penuh perhitungan dan sesuai prosedur yang berlaku, dan akan sangat membantu managemen memenuhi kebutuhan, tantangan atau ancaman yang ada. Skenario serupa saya tonton di film This Is It. Michael Jackson yang sudah lebih dari 8 tahun tidak tampil dalam konser musik, akhirnya memutuskan untuk turun gunung. Konser akbar yang akan digelar di stadium O2, London merupakan konser perpisahan sang bintang di dunia show biz, sebelum akhirnya dia merencanakan untuk pensiun dan beralih ke dunia sosial. Konser di O2 menjadi awal dari road show untuk melengkapi 50 konser berikutnya, yang tiket masuknya sudah habis dalam waktu hanya 3 hari. Untaian konser yang menelan dana USD 20 juta dan digawangi oleh AEG Live sebagai produser dan penyandang dana.


Film This Is It merupakan film dokumenter yang menyajikan suatu kisah nyata, bagaimana MJ, begitu Michael Jackson biasa dipanggil, yang didukung oleh lebih dari 300 crew, melakukan latihan-latihan selama hampir 6 bulan. This Is It, yang diambil dari judul untaian konser penutup sang bintang, di terbitkan ke publik, ketika ternyata MJ kena serangan jantung dan meninggal dunia 1 bulan sebelum konser digelar. Ironis memang, tapi MJ tetaplah seorang super star, seorang King of the Pop yang meskipun akhirnya meninggal sebelum konser terwujud, tetap menjadi headline dari media masa seluruh dunia, sampai hari ini. This is it memang bermakna "Inilah puncaknya". Puncak kehidupan seorang sang bintang.


Kalau orang melihat This Is It sebagai sebuah film musik, atau film entertainment, saya justru melihatnya sebagai sebuah film Manatainment. Film tentang managemen yang dikemas dengan musik dan aksi panggung, dan dipamerkan dengan prinsip-prinsip managemen yang benar. Sebuah pertunjukan film yang menggambarkan bagaimana sebuah industri dikelola, sebuah program direncanakan dan sebuah cita-cita harus diwujudkan. Dimulai dengan proses recruitment, ketika 300 pelamar dari Australia, Asia, Eropa dan tentunya Amerika, atas biaya sendiri, mengajukan diri untuk menjadi penari latar sang bintang. Mereka berbondong-bondong datang dan dinilai oleh suatu scouting team dalam suatu audisi yang terstruktur, profesional, dan transparan. Hanya 8 dari mereka yang diterima dan hasilnya memang they are the top eight dancers dari seluruh dunia. Proses recruitment untuk sebuah show biz, dilakukan dengan prinsip-prinsip managemen moderen yang patut ditiru. Hal yang sama dilakukan untuk menjaring pemain musik, penata cahaya, penata panggung, kreografer, dan seluruh anggota tim lainnya.


Recruitment barulah suatu awal dari proses managemen yang dipamerkan. Masih ada proses-proses managemen lainnya yang mengikutinya. Trainning, developing, coaching, innovation, professionalism, decision making dijalankan dengan sangat saksama. Bahkan Kenny Ortega, sang pemimpin AEG Live mempertunjukkan bagaimana safety harus menjadi prioritas utama dari suatu proses produksi. Ketika skenario pertunjukan mengharuskan MJ naik keatas crane yang diangkat setinggi 5 meter diatas permukaan tanah, Ortega memulainya dengan safety talk dan beberapa kali berteriak agar MJ selalu pegangan hand rail sesuai dengan SOP yang ada. Itu belum cukup. MJ rencananya menyanyikan tangisan masyarakat karena lingkungan dan alam yang dirusak oleh industri lainnya. Dalam lagu yang berjudul Earth Song, MJ merintih dan setengah protes, mengapa hutan di Amozon ditebang dan dihabiskan atas nama keserakahan manusia. Lengkap sudah aspek-aspek managemen yang diperlihatkan MJ dalam mengelola organisasinya. MJ ibarat Presiden Direktur yang memimpin timnya dalam mewujudkan konser yang diidam-idamkan.


Ada 3 hal yang saya garisbawahi ketika MJ bertindak sebagai atasan. Pertama, dia mempunyai visi yang kuat dan dapat dilihat oleh seluruh anggota organisasi. Anggota tim dapat menangkap apa yang menjadi cita-cita MJ dalam konsernya kelak. MJ mempunyai drive yang tegas, tetapi dinyatakan dalam kalimat-kalimat yang sangat santun dan friendly. Lebih dari kesantunan seorang priyayi Solo. Kedua, ketika MJ melakukan kesalahan, atau bahkan ketika sekedar salah paham, dia selalu meminta maaf kepada anak buahnya. Saya mencatat MJ mengeluarkan lebih dari 25 kali kata-kata I'm sorry, sambil menjelaskan mengapa "kesalahan" ini terjadi. Yang paling istimewa, MJ me-recognize anggota timnya yang sukses dengan kalimat yang sangat agamis, God bless you. Saya tidak habis pikir, bagaimana ketiga hal tersebut diatas bisa keluar dari seorang super star seperti MJ, yang lahir dan besar di Amerika.


Industri, apapun jenisnya, dimanapun mereka beroperasi, dan siapapun pelakunya ternyata harus menerapkan prinsip yang sama. Teori managemen moderen mensyaratkan kita untuk menganut pendekatan yang serupa. MJ telah mengajarkan kepada kita bagaimana sebuah industri dikelola, bagaimana anggota-anggota tim diperlakukan sebagai sesama manusia dengan pendekatan yang manusiawi. Masih teriang-iang ditelinga saya suara MJ yang menyentak-nyentak ketika menyayikan lagu Beat It. Beat it….beat it…..


Marketing Your Self

Salah satu acara TV favorit saya adalah gulat gaya bebas, SmackDown. Saya tidak sendirian, karena ternyata acara tersebut selalu mendapat rating tinggi, tak peduli akan protes yang terus dilancarkan, sekalipun sampai KOMNAS HAM. Alih-alih dijauhi oleh anak-anak, bahkan para orang tua mereka tak urung ikut duduk manis didepan pesawat TV, ketika menikmati "tipuan layar" yang disuguhkan nyaris sempurna. SmackDown adalah program TV Wrestling yang pertama kali ditayangkan setiap Kamis malam, mulai tanggal 29 April 1999, di UPN TV Network, sebuah stasiun TV ternama di Amerika. Meskipun sebagian besar penonton tahu persis bahwa itu hanyalah "tipuan" belaka, permainan tidak sungguh-sungguh dan sama sekali jauh dari full body contact sesungguhnya, tapi tak pelak lagi, seluruh penonton TV seluruh dunia mengaguminya. Apa yang menyebabkan SmackDown begitu laku dan disukai penonton TV di seluruh dunia? Jawabannya adalah : The Great Marketing. Marketing yang hebat. Marketing yang luar biasa.


Bangsa Amerika memang jagoan "menjual" apa yang dimilikinya. Malahan sering mereka menjual apa yang mereka tidak miliki. Banyak program TV dari sana yang sejatinya biasa-biasa saja, dikemas begitu indah, dijual dengan label yang menggiurkan, dan harga mahal. Oprah Winfrey, American Idol, Ripley's – Believe It or Not, dan Family 100 adalah contoh-contoh acara TV yang kalau dikaji sungguh-sungguh, bermutu biasa-biasa saja, tetapi berhasil menyedot penonton yang luar biasa banyak, termasuk di Indonesia. Masih banyak program TV nasional yang diambil dari acara TV Amerika, sebagian dalam bentuk franchise, sebagian dibajak tanpa izin. Mereka sukses besar karena Great Marketing. Aa Gym, Ary Ginanjar dan Mario Teguh adalah contoh inspirator kita, yang malang-melintang di dalam negeri tetapi tidak ada yang mendunia, go international, seperti Stephen Covey. Ketika setiap tahun Covey menjual ratusan ribu buku, ribuan video, ratusan program pelatihan dan menengguk jutaan dolar sebagai royalti ke seluruh dunia, Aa Gym hanya berkutat dengan bisnis Managemen Qalbu yang justru malah mengecil, Ary Ginanjar bahkan tak mampu menguasai pasar Malaysia sekalipun dan Mario Teguh hanya berjaya di Golden Way nya Metro TV. Mengapa demikian? Mengapa kita tidak bisa jualan dengan cantik, jualan yang cerdas, jualan yang mengandung art dan jualan dengan sukses yang luar biasa?



Paling tidak ada 2 hal yang menyebabkan kita sebagai bangsa menjadi poor marketer. Pertama adalah karena kita tidak mempunyai budaya jualan. Kita bukan bangsa Marketing, dan kita justru sering meremehkan nilai ini. Budaya Jawa (baca : Indonesia) menempatkan andap asor ( rendah hati), tepa slira (tenggang rasa) dan ojo nggege mangsa (jangan mengharapkan sesuatu yang akan terjadi di masa depan) sebagai nilai-nilai yang harus dijunjung tinggi, nilai-nilai mulia yang sering berbenturan dengan prinsip Marketing yang sukses. Budaya Jawa juga menganggap bahwa perilaku ngaku-aku (menonjolkan diri sendiri) sebagai saru (tidak pantas, tidak sopan), padahal Marketing Art menuntut sikap ini sebagai cara memuluskan proses jualan. Yang kedua adalah sistem pendidikan. Ketika murid-murid di Barat dibiasakan berbicara didepan umum, diajarkan selalu menulis apa yang ada di dalam pikirannya, dan harus spontan berpendapat, anak-anak kita dicekoki dengan cara one way communication. Berbeda pendapat dengan pakem sang guru dianggap salah dan diberi nilai nol. Protes dianggap berdosa dan pelajaran Mengarang dan Bercerita jarang diberikan. Guru, dan juga orang tua dan atasan, dianggap sebagai Can do no wrong, atau mereka yang tidak mungkin salah dan tak terbantahkan, sangat represif.



Kalaupun kedua handicap diatas bisa diatasi, prinsip Marketing yang baik tetap harus dijalankan, yaitu : apa yang anda jual. Percuma anda mahir ilmu menjual, kalau isi jualannya barang rongsokan, barang abal-abal. Sekali lagi, content adalah mutlak, isi harus istimewa. Mutu adalah nomer satu, baru anda akan PD dengan apa yang menjadi milik anda. Kalau semua itu dibungkus dengan cara Marketing yang cantik, yang piawai, yang elegan maka akan lengkap proses keberhasilan anda. Peter Drucker bahkan mengatakan bahwa "Semua perusahaan bisnis hanya punya dua fungsi utama : Marketing dan Inovasi".



Ketidak mampuan menjalankan fungsi Marketing, tidak hanya dalam skala perusahaan, tetapi juga dialami oleh banyak pekerja dalam perusahaan itu sendiri. Banyak professional yang mempunyai banyak ide yang brilian tetapi jarang yang mampu menjabarkan kedalam "bahasa" yang pas, yang proporsional, apalagi memikat dan menggunakan media yang tepat. Bagaimana atasan, pelanggan, atau bahkan share holder bisa menangkap apa yang diusulkan bila ide itu tidak dimanifestasikan dengan benar. Para Engineer mati langkah ketika mereka selesai melakukan study nya, dan atasan tidak bisa memunculkan anak buahnya yang performed ke level yang lebih tinggi ketika forced ranking dilakukan. Bagaimana imej perusahaan bisa tercipta ketika para eksekutif didalamnya lebih memilih untuk selalu low profile, introvert dan be shy. Marketing adalah seni, sekaligus ilmu yang bisa dipelajari, meskipun sangat kental berlatar belakang budaya dan pendidikan. Jual ide anda, jual kompetensi anda, karena itu akan membuat anda berada ditingkat yang lebih tinggi. You are responsible for marketing your own self.


Inovasi Atau Mati

James Wiseman baru saja diangkat sebagai VP of Corporate Affairs Toyota Manufacturing di Amerika Utara. Pada kesempatan monthly meeting pertama dengan para eksekutif di tempat kerjanya, dengan bangga dan hati berbunga-bunga, Wiseman melaporkan hasil kinerja positif yang telah diraih grupnya selama bulan lalu. Tetapi, belum selesai dia berbicara, Fujio Cho, atasannya, memotong laporan itu dengan kata-kata sanjungan yang berbau cynical. "Jim san, anda adalah pekerja yang hebat, oleh sebab itu kami mengangkat anda untuk menduduki jabatan VP di perusahaan ini. Jadi, semua kesuksesan anda bukanlah sesuatu yang harus kami dengar terlebih dahulu. Meeting ingin mendengar problem apa yang anda hadapi untuk kita pecahkan bersama. Kesuksesan adalah hal penting yang harus dicatat, tetapi kegagalan dan problem jauh lebih penting untuk dicermati, karena ia akan membawa kita kearah yang lebih baik". Cerita diatas menimbulkan pertanyaan-pertanyaan baru untuk kita : "Apa hubungan antara problem dan inovasi? dan mengapa inovasi harus dihadapkan head to head dengan kematian seperti judul artikel ini?. Mengapa harus menggunakan judul artikel yang begitu kejam ?

Kalau anda mau survive, inovasi memang suatu aktivitas yang tidak bisa ditawar lagi bagi dunia usaha. Kompetisi semakin ketat, tuntutan semakin berat dan lingkungan usaha, internal dan eksternal, bergejolak tak bisa ditebak. Iklim berkompetisi memang sudah sedemikian kejam. Satu-satunya cara agar anda tetap hidup ajeg adalah dengan inovasi. Pelarangan iklan rokok di TV adalah salah satu contoh. Menyadari bahwa industri rokok tidak bisa hidup tanpa iklan, Sampoerna mengakali dengan film yang berbau gaul, tanpa ada kata dan gambar rokok dalam tayangannya. Muncullah slogan seperti "Tak ada loe, nggak rame". Gambar rokok tidak ada, apalagi mempromosikan rokok, tapi orang dengan gampang mengasosiasikan iklan itu dengan rokok Sampoerna Hijau. Cerita tentang kehidupan di alam nyata di iklan itu adalah kamuflase semata-mata. Yamaha dengan Mio nya, idem ditto. Yamaha tahu persis bahwa motor bebeknya kurang bisa bersaing dengan Honda. PT Yamaha Motor Kencana Indonesia, mengenalkan produk Mio, motor tanpa persneling, yang lebih mudah ditunggangi para wanita. Kalau pada tahun 2003, tahun pertama dikenalkan Mio ke pasaran lokal, mereka hanya berhasil menjual 1000 ribuan unit saja per bulan, saat ini Yamaha mencatat penjualan 114.000 unit per bulan, atau naik 114 kali dalam waktu hanya 6 tahun. Ia mengungguli motor-motor lainnya, termasuk Honda dan, apalagi Suzuki. Memang, seandainya Yamaha tidak berhasil menemukan Mio, maka hari ini kita tidak akan melihat motor Yamaha di jalanan ibukota. Inovasi memang bukan hanya 1 pilihan dari beberapa alternatif, tetapi sudah merupakan satu-satunya pilihan dalam mempertahankan hidup berniaga. Kita bisa bayangkan bagaimana kelamnya dunia saat ini, jika dulu James Watt tidak pernah menemukan Mesin Uap, Wright bersaudara tidak bersinggungan dengan pesawat terbang, Marconi tanpa pesawat radio dan Michael Faraday tidak menjadi Bapak Listrik Dunia.

Lalu, apa hubungan antara Inovasi dengan problem?. Toyota mempunyai konsep bahwa identifikasi masalah merupakan cikal bakal lahirnya inovasi. Setelah problem diidentifikasi, lantas dicermati untuk dicarikan jalan keluar bersama menuju perbaikan, diukur dan selalu dikelola, maka kumpulannya menjadi suatu perbaikan yang luar biasa. Peter Drucker, bapak modern management dunia, dalam bukunya The Practice of Management menyatakan bahwa musuh inovasi adalah kepuasan dan pengisolasian diri. Kalau anda merasa bahwa organisasi anda tanpa masalah, semuanya lancar, keuntungan tidak pernah turun mengagetkan, survai kepuasan pekerja oke-oke saja, dan informasi-informasi yang menggembirakan lainnya, maka tunggu tanggal mainnya gulung tikar. Toyota bahkan secara detil membagi "perubahan menuju ke perbaikan" menjadi 2. Pertama adalah inovasi, yaitu perubahan yang sifatnya dramatis, memerlukan biaya yang tinggi, memerlukan waktu yang relatif lama, dilakukan oleh profesional dan hanya datang sewaktu-waktu. Perubahan kedua disebut sebagai Continous Improvement, yaitu perubahan yang kecil-kecil, biaya minimal, tidak memberikan kesan, bisa dilakukan setiap saat, mempunyai nilai-tambah dan harus dilakukan oleh seluruh sumber daya yang ada. Keberadaan dua jenis perubahan ini sifatnya mutlak. Organisasi yang membiarkan inovasi biasanya akan lebih "berantakan". Andy Groove, mantan CEO Intel bahkan mengatakan bahwa iklim dan budaya inovasi kadang-kadang melahirkan kekacauan. Grove menasehati para manajernya agar lebih berani bereksperimen, tidak takut salah, berpikir out of the box, dan "membiarkan kekacauan berkuasa".

Agak sulit memplotkan teori inovasi ke operasi MEPI. Innovative sudah didaulat menjadi salah satu values kita. Penjabarannya dalam bentuk perilaku dapat kita lihat di Medco Leader Statement. Bulan depan kita akan mengadakan Innovation Night untuk merayakan gebyarnya inovasi. Tetapi apakah itu cukup?. Ternyata jauh dari itu. Baik inovasi maupun Continous Improvement belum menjadi bagian dari cara kerja kita. Pengkondisiannya belum dilakukan, iklim belum tercipta, values belum terinternalisasi dan budaya belum terbentuk. Padahal kedua jenis perubahan itu secara bersama-sama mutlak dibutuhkan. Keduanya harus dilakukan pada semua fungsi, pelbagai lini operasi dan antar bubbles. Dalam beberapa hal, yang terjadi justru kebalikannya. Ini yang mengindikasikan bahwa inovasi dan Continous Improvement belum secara sengaja didorong. Jikalau ini semua dimulai hari ini, mungkin belum terlambat, tetapi jika menundanya sampai besok, bisa jadi kita ditinggal oleh pesaing-pesaing dan ditinggalkan para stake holder kita. Jangan sampai lupa : Inovasi atau mati.



Pygmalion Effect

Ada legenda terkenal dari Yunani. Cerita rakyat tentang seorang pematung yahud, yang mempunyai spesialisasi membuat patung perempuan. Saking ahlinya, Pygmalion ditunjuk sebagai pemahat istana khusus melayani raja, bila sang paduka menginginkan sebuah patung perempuan yang cantik-molek sesuai keinginan si pemesan. Sampai suatu hari, Pygmalion berhasil menyelesaikan sebuah patung perempuan hasil imajinasinya ketika bermeditasi. Semua orang kampung memuji kecantikan patung tersebut yang lama-lama menggugah perasaan Pygmalion akan betapa indahnya patung hasil karyanya sendiri. Karena rasa kagum luar biasa yang ada dalam hatinya, akhirnya Pygmalion jatuh hati pada si jelita. Tak hanya itu, dia perlakukan si patung dengan sepenuh hati, seolah-olah kekasih hatinya. Diberinya pakaian termahal, perhiasan berlian bermutu manikam bahkan diajaknya patung itu berasyik-masyuk, layaknya seorang laki-laki terhadap kekasihnya. Sebagai bukti cintanya, Pygmalion pergi ke kuil dewi Aphrodite, dan memohon kepada sang dewi, agar patung tsb benar-benar bisa menjadi seorang manusia untuk dijadikan isterinya. Karena kemauannya yang sangat keras dan pengharapan yang sangat tinggi, disertai kepercayaan yang sungguh-sungguh agar harapannya dikabulkan, Aphrodite pun berkenan mengabulkan permintaan Pygmalion.


Sesampai disanggar, didapatinya bahwa si patung sudah berubah menjadi seorang perempuan cantik dan bertindak sebagai isterinya. Ketika dikecup, seolah dia dapat merasakan kehangatan "sang isteri", dan terjadilah sebuah gambaran rumah tangga yang harmonis. Pasangan Pygmalion diceritakan hidup berbahagia, sampai kematian memisahkan mereka. Cerita tersebut pasti hanya karangan belaka. Tidak mungkin dewi Aphrodite bisa mengabulkan keinginanan Pygmalion untuk menjadikan sebuah patung, betapapun cantiknya si patung, menjadi seorang isteri yang sempurna. Cerita diatas hanyalah mengajarkan bagaimana sebuah pengharapan, sebuah kemauan, sebuah cita-cita yang disertai keyakinan yang penuh dan terus-menerus akan didukung oleh alam-raya untuk menjadi sebuah kenyataan. Cerita Pygmalion menjadi suatu reminder bahwa konsistensi akan suatu pengharapan yang diyakini sungguh-sungguh akan terjadi, bisa benar-benar menjadi suatu kenyataan. Pengharapan tersebut seolah-olah menarik semua orang yang terlibat, menarik lingkungan dan menarik alam-raya untuk mendukung harapan tadi. Fenomena ini sekarang dikenal sebagai Law of Attraction.



Analogi cerita Pygmalion sering dialami dalam dunia pekerjaan, terutama ketika menghadapi teman- kerja kita, apakah dia seorang atasan, bawahan atau peers kita. Apabila anda sedang memotivasi seorang bawahan disertai dengan keyakinan bahwa dia akan menelorkan kinerja yang sempurna, dan keyakinan itu anda pelihara secara intensif dan terus menerus maka seluruh pekerja di organisasi anda, bahkan alam-raya pun, akan mendukung keyakinan anda tersebut. Hasilnya adalah bahwa harapan itu akan terwujud. Apabila anda yakin sepenuhnya bahwa suatu proyek yang sedang anda garap akan berhasil dengan memuaskan, maka segenap perilaku anda mencerminkan harapan itu dan teman kerja anda akan menyikapinya dengan dukungan positif. Kalau anda memperlakukan partner anda seluruh kayakinan dan harapan yang positif, "dewi Aphrodite" akan membalas hasil yang positif pula. Pygmalion Effect adalah suatu hasil yang memanfaatkan kekuatan "harapan positif" yang menggali seluruh sumber daya yang ada, bahkan diluar kemampuan diri kita.



Efek sebaliknya dari "harapan positif" tadi, juga bukan mustahil terjadi. Pikiran, harapan atau bahkan sekedar angan-angan negatif yang anda pelihara secara konsisten dan terus menerus, niscaya akan melahirkan hasil yang negatif pula. Yang sulit adalah, bagaimana kita bisa selalu memelihara "harapan positif" dan membuang jauh-jauh pikiran negatif, dan keluar dengan spontan. Latihan dan belajar memeliharanya adalah salah satu cara untuk mendapatkannya. Mengevaluasi diri setiap saat dan secara sadar selalu membuang "harapan negatif" bila ia timbul, bisa membuat diri anda selalu penuh dengan "harapan positif" yang bisa timbul secara serta-merta. Jangan lupa, apa yang anda pikirkan selalu mewarnai hasil yang anda dapat. You are what you think.



Tukang Becak Surabaya

Kisah ini sudah sering kita dengar. Anekdot lucu khas Surabaya, yang meskipun sudah diulang-ulang diceritakan masih menimbulkan gelak-tawa bagi pendengarnya. Bowo adalah pemuda kelahiran Surabaya yang lahir dan besar di Surabaya. Saat ini Bowo menjadi pengusaha sukses di Jakarta. Suatu hari Bowo berlibur ke kota kelahirannya, ingin memamerkan kehebatannya dihadapan teman-temannya. Cak Bowo, pengusaha sukses terlihat mentraktir arek-arek Suroboyo di Tunjungan. Dan tak mau dibilang sombong, dia ingin naik becak kerumah pakliknya di Pasar Turi. "Cak, nang Pasar Turi piro?", begitu cak Bowo menawar Becak. "Sepuluh ewu"' jawab cak Buat, si tukang becak. Akhirnya, dengan terpaksa, cak Buat setuju untuk membawa cak Bowo ke Pasar Turi, dengan ongkos hanya Rp 5.000,-. Dalam perjalanan, ternyata cak Buat nggenjot becaknya dengan ugal-ugalan. Angkot diselip, motor dipepet, jangan ditanya bagaimana cara dia memperlakukan mobil-mobil pribadi. Senggol sana, srempet sini, tentunya dengan kecepatan tinggi. Meskipun cak Bowo gagah-berani dan brangasan, khas Suroboyo, tak urung cak Bowo kecut juga hatinya. Ditegur pelan-pelan beberapa kali, tak menyebabkan cak Buat berubah. Akhirnya Bowo muntab. Si tukang becak dibentak dengan kasar, "Jok ugal-ugalan pok'o cak. Aku gak kesusu"?. Sambil bergumam pelan, cak Buat mendengus, "Limang ewu kok njaluk slamet".

Apa yang terjadi dalam proses berpikir cak Buat?. Apa yang menyebabkan dia berpendapat bahwa kalau ongkos murah, maka boleh ugal-ugalan, boleh celaka?. Cak Buat telah melakukan kesalahan yang sangat mendasar. Dia telah memisahkan faktor keselamatan (penumpang dan dirinya) dengan proses produksi yang sedang dilakoninya. Bahkan dia memisahkan ongkos untuk mengantarkan cak Bowo ke Tunjungan dengan keselamatan pelanggan dan dia sendiri. Dia menganggap bahwa pelayanan ke pelanggan adalah sesuatu yang bisa dipisahkan dengan keselamatan, dalam hal ini keselamatan mengendarai becak. Kalau membawa penumpang ke tujuan tanpa safety, maka ongkosnya boleh lebih murah dibanding bila dia harus memasukkan pertimbangan safety. Bahaya sedang mengancam cak Buat dan pelanggan-pelanggannya, karena cak Buat mempunyai budaya tebang-pilih yang keliru. Padahal, keselamatan kerja (dan juga : kesehatan kerja dan lindung lingkungan, SHE) adalah faktor yang melekat dalam proses kerja itu sendiri. Seorang ahli keselamatan kerja dari Inggris, Kirwan (1998) mengatakan bahwa salah satu kegagalan leadership dalam dunia industri adalah apabila ia tidak mengintegrasikan faktor safety dalam proses produksinya.


Apa yang dilakukan cak Buat, ternyata juga sering kita lakukan. Pemisahan item-item yang berkenaan dengan SHE di kontrak kerja, masih terjadi. SHE justru dieksklusifkan sebagai faktor tersendiri yang, apabila tidak dibutuhkan, bisa ditinggalkan. Jika penghematan harus dilakukan, maka SHE merupakan elemen pertama yang dikeluarkan atau dikurangi dari proses produksi. Pihak yang dianggap mempunyai accountability terhadap SHE juga dengan gampang dipisahkan dan tidak melekat pada atasan-lini. Seperti halnya dengan cak Buat, kompromi pertama yang bisa dilakukan, apabila bisnis memerlukan, adalah mereduksi standar SHE yang telah disepakati. Cak Buat tidak hanya ugal-ugalan dan brangasan, tetapi juga telah melakukan kesalahan berpikir yang fundamental seperti yang juga masih kita lakukan.