Selasa, 27 April 2010

Down Syndrome : Semua Manusia Istimewa

Sudah lama tak berjumpa, membuat pertemuan tak sengaja saya dengan Sunarto, Ning isterinya dan Karunia anaknya di suatu pusat perbelanjaan menjadi sangat gayeng. Narto, teman kuliah yang sudah hampir 30 tahun tak berjumpa. Sementara Ning, adik kelas kami pada waktu itu, tetap gampang ditandai sebagai bunga kampus tahun 70 an. Luput dari perhatian kami karena asyik ngobrol, Karunia sibuk mengambil foto dari segala sisi. Sampai akhirnya dia menegur dengan kalimat yang nyaris tak jelas. "Halo om, apa kabar?". Saya kaget dan baru menyadari bahwa Karunia lupa disapa. Teringat kemudian bahwa Karunia adalah penyandang Down Syndrome, Mongoloid, yang mempunyai keterbelakangan pertumbuhan fisik dan mental. Mukanya bulat, kepala kecil (macroglossia), kulit pucat, mata sipit dengan lipatan (epicanthal folds), dan hidung datar melebar. Setelah berbasa-basi sebentar dengan mereka bertiga, Karunia memisahkan diri, untuk bisa tetap jepret sana-sini mengambil foto disekeliling kami. Narto lebih lanjut bercerita dengan bangga, bahwa Karunia sudah menjadi fotografer profesional dan tak jarang dipanggil teman dan kerabat, untuk mengabadikan perhelatan yang mereka gelar. "Karunia sudah menjadi juru foto bayaran, bukan hanya karena kasihan atau daripada nganggur". Begitu Narto meneruskan ceritanya. Sampai umur 18 tahun, Karunia masih sangat terbatas kemampuannya. Lulus Sekolah Dasar Luar Biasa, anak perempuan satu-satunya itu divonis tidak dapat mengikuti pendidikan lebih lanjut. Dia nyaris tak berbuat apapun, sampai hari ulang tahun ke 18nya tiba. Iseng-iseng, Narto menghadiahkan kamera saku digital yang lagi in. Mula-mula dia hanya mencoba sebisanya. Tapi lama-lama, Karunia sangat menggemari "profesi"nya yang baru. Hasil jepretannya cukup bagus, bahkan ketika dikonsultasikan kepada ahli fotografi, foto-foto jepretan Karunia dinilai mempunyai nilai artistik dan teknik yang tinggi. Mulai bangun tidur sampai tidur kembali, kamera saku tak pernah lepas dari genggamannya, dan setiap hari dia menghasilkan puluhan atau ratusan foto yang disimpan dengan apik di lap top ibunya. Semuanya dilakukan sendiri. Sekarang dia telah menjadi fotografer professional, bayaran, dengan hasil jepretan yang memuaskan. Kameranyapun sudah berganti dengan yang lebih canggih, dengan teknologi dan beberapa asesoris yang rumit. Semuanya hasil jerih payah sendiri. Seorang gadis penyandang Down Syndrome yang selama 18 tahun tidak mampu berbuat apa-apa, helpless, menjadi seorang fotografer profesional yang dibutuhkan banyak orang.

Serupa dengan kisah Karunia (nama yang sengaja diberikan Narto dan Ning, setelah mereka tahu bahwa puteri pertamanya menyandang Down Syndrome, "agar selalu ingat bahwa itu adalah karunia dari Allah", katanya), saya ingat acara Kick's Andy beberapa minggu lalu. Seorang gadis dari Solo, Stephani Handoyo, yang juga penyandang Down Syndrome, berhasil menyabet medali emas untuk kejuaraan renang gaya dada 100 meter, di Special Olympic Singapore. Stephani berhasil mengalahkan saingannya dari seluruh dunia dan memperdengarkan lagu kebangsaan Indonesia Raya saat dia dikalungi medali. Prestasi Stephani tidak hanya itu, dia juga ahli menarikan jari jemarinya diatas tuts piano, sambil mendendangkan lagu-lagu kesukaannya. Ibu Handoyo, bunda Stephani, terlihat bahagia dan bangga ketika mendapat compliment yang disebut oleh Andy Noya sebagai kontributor utama sampai Stephani bisa menjadi seperti ini.

Ada Karunia dan Stephani dari Indonesia. Ada Hee Ah Lee, dari Korea Selatan, yang bahkan disamping Down Syndrome juga menyandang Lobster Claw Syndrome, seseorang yang hanya mempunyai 2 jari pada setiap tangannya, seperti capit udang, tanpa telapak tangan. Ah Lee adalah seorang pianis kelas dunia yang mampu memainkan Piano Concerto 21, karya Mozart yang dikenal sangat sulit dan rumit dengan nyaris sempurna. Seorang pianis handal dengan hanya total 4 jari di tangannya. Dia mendapat banyak penghargaan atas kehebatannya bermain piano dan membawanya keliling dunia, termasuk bermain bersama pianis ternama Richard Clayderman di Gedung Putih, Washington, Amerika Serikat.

Ada banyak lagi cerita kesuksesan dan prestasi dari mereka yang semula dianggap tak berdaya. Orang sakit, orang jompo, orang dengan kebutuhan khusus (istilah yang diberikan untuk mengganti "penyandang cacat", yang berkonotasi negatif), orang dengan IQ rendah, orang tak berbakat, kemudian terlihat mampu mengerjakan sesuatu yang tadinya tidak terkirakan oleh orang yang merasa dirinya normal. Anak yang kadung mendapat stigma negatif seperti bodoh, nakal, suka melawan, keluar pakem, tiba-tiba nyolong petek (bahasa Jawa, artinya : mengukir prestasi istimewa yang tidak diduga sebelumnya) menjadi orang hebat dan dikagumi masyarakat. Bawahan yang bertahun-tahun dicap malas, tidak berprestasi, dead wood, kemudian menemukan jati dirinya di bidang yang sama sekali berbeda dan menimbulkan decak kagum. Masih tentang cerita yang senada, adalah narasi dari foto diatas, yang berhasil dijepret seorang kawan di bandara Auckland, New Zealand. Seorang ibu manula, yang mengaku berumur 80 tahun, masih bersedia mengorbankan dirinya sebagai petugas informasi di bandara yang setiap hari dipenuhi penumpang. Ketika didekati, ternyata sang ibu mengenakan pin dengan tulisan "volunteer". Yah, ibu itu bertugas tanpa dibayar. Rela duduk dan menanti penumpang yang membutuhkan informasi tentang jadwal penerbangan, tata letak bandara dan informasi lainnya, sepanjang hari, sekali lagi for free. Bagaimana kita melihat itu sebagai suatu kejadian yang aneh? Pelajaran apa yang bisa ditarik dari semua fenomena sosial itu?

Margaret W. Matlin, Distinguished Teaching Psychology Professor di State University of New York at Ganeseo (1999) menulis dalam bukunya, tentang 3 tema utama untuk melihat manusia dengan kacamata ilmu jiwa. Pertama adalah bahwa manusia adalah makhluk hidup yang sangat kompeten. Tema kedua adalah manusia sangat berbeda, dari yang satu ke lainnya. Tema terakhir adalah proses psikologis sangat kompleks. Karunia, Stephani dan Ah Lee mengkonfirmasi tema-tema Matlin diatas. Semua manusia adalah sangat kompeten, tak peduli apakah dia memerlukan kebutuhan khusus, nenek jompo atau bawahan yang sudah terlanjur dicap dead wood. Yang sulit adalah bagaimana orang tua, atasan, sahabat, keluarga bisa menemukan kompetensi spesifik yang ada dalam diri seseorang. Konon, sebuah penelitian menyimpulkan bahwa hanya kurang dari 5% dari manusia Indonesia yang berhasil mengeluarkan kompetensi spesifik yang dimilikinya secara optimal. Menemukan kompetensi spesifik atau bakat seseorang memang sulit, seperti yang dikatakan Matlin pada pernyataan tema ke 3 diatas. Sesuatu yang hanya bisa dideteksi dengan kesabaran orang tua atau atasan dalam melihat anak atau anak buahnya dengan hati yang tulus. Kalau anak-anak penyandang Down Syndrome dan nenek manula terbukti bisa mengukir prestasi hebat, bagaimana manusia-manusia yang disebut "normal", yang saat ini banyak berada disekitar anda? Sekali lagi, kuncinya adalah mengamati dengan sabar dan melihat dengan saksama, menggunakan mata hati.


Kopenhagen: Don't Give Up Your Hope!



Renungan Akhir Minggu kali ini akan saya ambil dari tulisan karya "Aryobimo Pandu and Team Environment MEPI", yang mengulas latar belakang Konferensi Perubahan Iklim XV, Kopenhagen. Ada pihak yang merasa puas dan ada yang kecewa. Apapun perasaan masyarakat dunia, yang paling penting adalah mempertanyakan terus menerus bagaimana diri kita sendiri bisa tetap optimis dan selalu berkontribusi untuk menyelamatkan bumi kita tercinta ini.


Kopenhagen: Don't Give Up Your Hope!


Pada tanggal 7-18 Desember 2009 lalu, berlangsung Conferences of the Parties (COP) ke-15 di Kopenhagen, Denmark. Konferensi tersebut adalah pertemuan tahunan yang diadakan oleh The United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC) untuk membahas isu perubahan iklim dunia. Beberapa kesepakatan yang melatar-belakangi pertemuan tersebut antara lain adalah Kyoto Protocol (1997), Bali Action Plan (2007) dan terakhir adalah Copenhagen Accord (2009).


Sebelum COP ke-15 tersebut dilaksanakan, Menteri Iklim dan Energi Denmark Connie Hedegaard, sebagai tuan rumah, begitu optimis dan penuh semangat mengatakan "Selamat datang di Kopenhagen. Kita akan berjuang bersama di COP15 dan kami percaya akan menghasilkan yang terbaik". Terlebih, konferensi tersebut akan dihadiri oleh para kepala negara yang sangat diharapkan bisa membantu menemukan solusi bagi masalah perubahan iklim yang makin mengancam, salah satunya Presiden AS Barrack Obama dan PM Australia Kevin Rudd. Seperti yang diketahui hingga saat ini, Amerika Serikat belum meratifikasi Kyoto Protocol sementara Australia yang demikian sulit untuk meratifikasi protocol tersebut, pada 2007 lalu bertepatan dengan COP ke-13 di Bali akhirnya bersedia meratifikasinya melalui PM Kevin Rudd. Indonesia sendiri memperlihatkan komitmen dan inisiatif yang tinggi dalam mengatasi masalah perubahan iklim dengan mencanangkan akan menurunkan emisinya sebesar 26% hingga tahun 2020, lepas bagaimana program pemerintah untuk melaksanakannya. Hal tersebut diharapkan menjadi pemicu bagi negara-negara lain untuk berbuat hal yang sama.


Apa yang terjadi kemudian dari COP ke-15 tersebut bisa disebut sangat mengecewakan. Hasil pertemuan yang disebut Copenhagen Accord dianggap "seinci dari kegagalan" karena tidak bersifat mengikat secara hukum (legally binding), namun hanya bersifat take note. Hasil yang bersifat take note adalah hasil yang dianggap paling lemah karena tidak cukup untuk menjawab tantangan global warming yang semakin nyata. Kegagalan tersebut adalah karena tidak ada target yang riil berupa nilai emisi yang disepakati untuk diturunkan sampai tahun 2020, melainkan hanya komitmen untuk menjaga agar kenaikan suhu bumi tidak melampaui 2 derajat Celcius.


Mengapa begitu sulit untuk para pemimpin Negara untuk bersepakat mengenai nilai emisi yang harus diturunkan? Jawabannya adalah karena saat ini kebijakan mereka relatif hanya dibuat atas dasar kepentingan ekonomi, yang katanya, digunakan untuk mensejahterakan rakyat tanpa sama sekali memikirkan kepedulian akan kelestarian lingkungan. Mereka lupa bahwa manusia dalam kodratnya adalah juga merupakan bagian dari lingkungan. Alhasil, kegagalan COP ke-15 tersebut menyebabkan kebanyakan masyarakat dunia menjadi pesimis akan adanya solusi untuk mencegah bumi semakin panas. Logikanya, kalau di top level saja para pemimpin dunia tidak bisa berkomitmen, tindakan di level grass root hampi tidak ada gunanya.


Lantas, apakah keadaannya benar-benar sedemikian mengkhawatirkan sehingga tidak ada sedikitpun harapan agar keadaan berubah? Tentu saja tidak. Negara-negara di dunia akan ikut serta dalam COP tahunan yang terus dilakukan untuk melakukan perbaikan. Walaupun berjalan lambat, perbaikan tetap terjadi. Hanya dengan menunjukan langkah nyata serta komitmen yang tinggi untuk mulai menyusun kebijakan yang tidak sekedar mengatasnamakan kemakmuran manusia, kita dapat mengatasi masalah terbesar kita saat ini. Kalau para pemimpin gagal membuat kesepakatan dan tanpa keterikatan untuk menyelamatkan bumi ini, para umat yang jumlahnya milyardan harus mengambil posisi ini, dengan bersama-sama membuat keterikatan sendiri. Dalam diri kita masing-masing dan terus menerus dilakukan.


Dalai Lama suatu ketika pernah berkata "I find hope in the darkest of days, and focus in the brightest. I do not judge the universe". Kalau kita mengibaratkan saat ini adalah masa yang paling kelam, tetaplah berharap pada titik yang paling cerah karena tidak ada gunanya menyalahkan para pemimpin kita apalagi alam raya ini. Don't give up your hope!


HAWTHORNE EFFECT : ATENSI MELAHIRKAN PRODUKTIVITAS

Ada cerita sukses dari perusahaan yang memproduksi pembungkus telur ayam di Massachusetts, Amerika. Diamond International Corporation, begitu nama company tersebut, mengenalkan program pemacu produktivitas dengan membentuk Klub 100. Yang ini bukan perkumpulan sepakbola atau olahraga lainnya, juga bukan kumpul-kumpul menghimpun pencinta seni dan budaya. Klub 100 adalah suatu himpunan pekerja yang karena pencapaian kinerja-kinerja tertentu, akhirnya mendapat ponten 100. Siapa saja boleh bergabung dengan Klub 100, tua-muda, pria-perempuan, atasan-bawahan, asalkan setelah dijumlah-jumlah dia berhasil mengakumulasikan angka 100, berdasarkan aturan yang telah ditentukan. Angka 100 bisa dihasilkan melalui, misalnya, apabila pekerja tidak pernah absen selama setahun, maka dia mencatat skor 35. Nilai 10 diperoleh bila si pekerja bebas dari surat-peringatan. Bila si pekerja juga membukukan jam kerja tanpa celaka, maka dia boleh mengantongi tambahan 40. Begitu seterusnya untuk catatan-catatan yang menggembirakan dalam improvement proses kerja, aktif dalam lingkup karya sosial, dan beberapa hal lain yang menjadi concern perusahaan pada waktu itu. Apa yang didapat bila angka 100 sudah diraihnya? Dia dicatat sebagai anggota Klub 100, dan berhak untuk mengenakan jaket perusahaan yang disulam dengan benang emas "Klub 100". Jaket Klub 100 memang dibuat khusus, modis, dan terkesan elit. Ya, memang hanya itu. Ternyata pembentukan Klub 100 bisa membuat pekerja bersemangat masuk dalam kelompok itu. Dan itu tidak gampang. Rata-rata diperlukan waktu 1 tahun untuk mencapai angka 100, karena ternyata ada angka minus bila pekerja melakukan hal-hal tertentu yang tidak sesuai dengan tata-nilai atau aturan perusahaan. Setelah angka 100 dicapai, maka poin selanjutnya yang dikejar adalah angka 600. Bila angka psikologis tersebut disentuh, maka dia berhak memilih 1 diantara 40 "hadiah" yang ditawarkan, diantaranya adalah berlibur bersama keluarga ke tempat peristirahatan selama akhir minggu.


Memang benar, bahwa setelah program Klub 100 diluncurkan, produktivitas Diamond terangkat naik. Ia naik ke peringkat paling atas diantara para pesaingnya. Apa yang menyebabkan Klub 100 berhasil menjadi pemacu produktivitas? Apakah karena hadiah jaket atau liburan bersama keluarga? Saya ingat teori motivasi yang mungkin bisa menerangkan hal ini. Penelitian yang menghasilkan Hawthorne Effect dilakukan disuatu pabrik yang memisahkan sekelompok pekerja untuk diamati. Mereka tetap bekerja dengan kondisi kerja yang sama kecuali dalam hal penerangan. Ketika jumlah iluminasi diruang penelitian dinaikkan, produktivitas grup pekerja tersebut ikut naik. Penerangan ditambah lagi, produktivitas juga mengikutinya. Sampai disini para peneliti buru-buru mengambil kesimpulan bahwa produktivitas merupakan fungsi dari jumlah penerangan yang diberikan di ruang kerja. Anehnya, ketika penelitian diteruskan dengan mengurangi jumlah cahaya, produktivitas tidak ikut turun, bahkan ketika jumlah cahaya diturunkan sampai ke level awal penelitian, produktivitas pekerja tak beringsut turun. Akhirnya, kesimpulan yang diambil adalah bahwa produktivitas yang terus naik disebabkan atensi yang diberikan kepada sekelompok pekerja obyek penelitian. Menjadi obyek penelitian merupakan suatu bentuk dari atensi yang diberikan. Produktivitas merupakan fungsi yang berbanding lurus dari atensi dan bukan karena kondisi kerja.



Hawthorne Effect merupakan rangkaian teori motivasi yang berkembang sejak Management Science (Taylor), Hierarchy of Needs (Maslow) dan berpuncak pada Maintenance-Hygine Factor (F. Herzberg). Semuanya bermuara pada suatu kesimpulan bahwa produktivitas dan motivasi bisa ditingkatkan bila pekerja mendapat attention, recognition, achievement, growth, dan responsibility. Penelitian mengenai kecelakaan kerja juga mendukung hal ini. 75% Lost Time Incident termasuk fatality disebabkan oleh root cause yang mengarah kepada ketiadaan atau kekurangan perhatian atasan terhadap anggota timnya. Tidak hanya menurunkan produktivitas dan motivasi, keteledoran akan peduli kepada rekan kerja sering berakibat fatal bahkan sampai menghilangkan nyawa si pekerja.



Hawthorne Effect rasanya juga valid untuk diperlebar mencakup lingkungan diluar dunia kerja. Perlakuan kita terhadap anggota keluarga, tetangga, masyarakat atau secara umum kepada sesama, sangat mempengaruhi bagaimana mereka berperilaku. Dalam masyarakat yang dingin, terlalu memegang formalitas dan transaksional, yang jauh dari adanya atensi yang menyentuh, akan mengikis spirit untuk guyub dan hidup dalam suasana yang hangat akan musna. Itulah yang mungkin bisa menjawab pertanyaan mengapa masyarakat kita saat ini bersumbu pendek dan acuh terhadap kepentingan orang lain.



It is our benefit to care for others (John W Maxwell, Pendiri INJOY Group, Motivator)



Stockholm Syndrome: Saya Banyak Belajar Dari Anda

Persis 2 hari menjelang tahun baru 2010, bangsa Indonesia kehilangan seorang putera terbaik yang pernah dimiliki negara ini. Kita, bahkan dunia internasional, kehilangan pendekar kemanusiaan yang dikenal kontroversial. Dia adalah Gus Dur, satu manusia dengan seribu predikat, yang diantaranya sering disebut adalah tokoh demokrasi, pejuang pluralisme, guru bangsa, pelopor humanisme dan egaliter tulen. Setelah Gus Dur wafat, ratusan atau bahkan ribuan cerita inspiratif muncul di media massa elektronik, cetak maupun on line. Semuanya mengenang Gus Dur dengan pelbagai sudut pandang. Cerita-cerita yang mengharukan, membanggakan, menakjubkan dan sering membuat kita tertawa geli, karena Gus Dus juga dikenal sebagai ahli cerita lucu yang orisinil, dan smart. Salah satu cerita yang membuat saya terhenyak, disampaikan oleh seorang sahabat dekat keluarga Gus Dur, di suatu stasiun TV. Dia mengisahkan dialog yang terjadi antara Gus Dur dengan puterinya, Yenny Wahid, yang sedang sibuk mempersiapkan resepsi pernikahan, beberapa bulan yang lalu. Suatu malam, Yenny membawa daftar nama yang bakal diundang pada malam resepsi dan melapor kepada bapaknya. "Pak, ini nama-nama yang kami himpun, untuk diundang pada malam resepsi nanti. Ada 2 daftar, pertama adalah tamu-tamu VIP, sedangkan yang kedua adalah tamu-tamu biasa". Belum selesai Yenny menghabiskan kalimatnya, Gus Dus segera menukas, seperti biasa dengan nada keras, tegas dan penuh percaya diri. "Yenny, tamu-tamu nanti hanya 1. Tidak ada VIP atau non-VIP. Semuanya VVIP. Ketika kita mengundang orang untuk hadir pada perhelatan yang kita adakan, dan dia hadir, maka kita harus menyambut semuanya dengan perlakuan yang sama. Semuanya sangat spesial, semuanya VVIP". Yenny masih berusaha mendebat bapaknya, dengan mengatakan bahwa kemungkinan besar, RI-1, RI-2 dan sebagian besar menteri akan hadir. "Bagaimana kita menyambutnya, bila semuanya sama?". Begitu Yenny mengemukakan alasannya yang sepertinya masuk akal sehat kita. "RI-1 dan RI-2 adalah tamu VVIP, tetapi tukang becak, tukang pijat, tukang ojeg, dan tetangga-tetangga kita di Ciganjur juga tamu VVIP kita. Mereka semuanya sama". Yenny terdiam dan sampai disini dia knock out, 1-0 untuk Gus Dur. Meskipun dengan hati bingung dan bertanya-tanya, Yenny balik kanan dan menyampaikan hal itu kepada panitia protokol, untuk ditindak lanjuti. Panitia bingung, keluarga bingung, semua bingung, bahkan saya sendiripun, seperti ribuan penonton acara tersebut mungkin juga ikut bingung. Tapi itulah Gus Dus, tokoh demokrasi dan egaliter tulen.

Saya berpikir dan terus merenung. Kalimat Gus Dur terus mengiang-iang di telinga saya. "Ketika kita mengundang orang untuk hadir pada perhelatan yang kita adakan, dan dia hadir, maka kita harus menyambut semuanya dengan perlakuan yang sama. Semuanya sangat spesial, semuanya VVIP". Saya langsung teringat keluhan beberapa teman yang sering juga saya alami, ketika menghadiri undangan pernikahan kerabat, atau teman dekat. Antrean panjang dan berdesak-desakan untuk bergantian memberi ucapan selamat bagi mempelai dan kedua orang tua, dan tanpa disadari ada tamu yang dianggap VIP oleh panitia atau tuan rumah, memotong antrean, langsung dipandu kedepan. MC mencabut microphone untuk basa-basi permohonan maaf, untuk memberi kesempatan utama bagi yang terhormat bapak dan ibu Anu, sebagai pejabat tertentu agar terlebih dahulu memberikan ucapan selamat diikuti foto bersama. Antrean terpaksa berhenti, tamu-tamu yang antre langsung terdegradasi sebagai undangan kelas 2, atau mungkin bahkan kelas 3 sambil menyaksikan pertunjukan di panggung bagaimana tamu VIP memberikan ucapan selamat dan berfoto ria. Kejadian diatas sering kita alami, tetapi rasa-rasanya seperti biasa-biasa saja. Menjadi tidak biasa ketika saya disadarkan oleh Gus Dur tentang bagaimana kita harus menyambut tamu, undangan kita sendiri. Mungkin saya kurang sensitif, atau mungkin Gus Dur terlalu sensitif. Tapi saya malu ketika untuk hal sepele seperti ini, sensivitas saya harus dibangunkan oleh Gus Dur, tokoh bangsa yang baru saja wafat.

Terus merenungi cerita Yenny versus Gus Dur, saya teringat akan sindroma yang dikenalkan oleh seorang Psikolog (atau Psikiater ?), Nils Bejerot. Diilhami dari suatu kejadian nyata di kota Stockholm, Swedia, pertengahan Agustus 1973, ketika beberapa perampok menyerbu Kreditbanken di daerah Norrmalmstorg, dan menyandera pekerja-pekerja bank, selama 6 hari. Lucunya, ketika akhirnya polisi menyerbu untuk membebaskan para sandera, mereka malah membela penyandera dengan melawan penyerbu dan membentengi perampok dari rentetan tembakan yang dimuntahkan polisi. Bejerot, yang diminta polisi mendampingi tragedi Stockholm sebagai psikolog, menamakan itu sebagai Stockholm Syndrome. Teori Bajerot ternyata terus berkembang ke ranah psikologi sosial dan psikologi organisasi. Frank Ochberg, Psikolog yang juga menekuni sindroma ini menyatakan bahwa Stockholm Syndrome adalah ungkapan rasa terima kasih yang sederhana atas hadiah kehidupan yang diberikan kepada seseorang, serupa yang dirasakan seorang bayi, ketika lapar dan mendapatkan sebotol susu. Terjadi Psychological attached dari seseorang kepada pihak yang dianggap "menyelamatkannya", meskipun sebetulnya itu adalah hak dia. Konteksnya tidak lagi hanya terpaku pada kasus perampok dan sandera, tetapi meluas ke transaksi antara atasan-bawahan, atau bahkan antara orang yang dihormati versus orang yang menghormati. Analogi dari cerita di Kreditbanken, bawahan yang menempatkan atasan sebagai segala-galanya, can do no wrong, selalu sendiko dawuh, tanpa check and balance, atau memperlakukannya berlebihan sambil mengorbankan orang lain, hasil dari perilaku atasan yang secara konsisten otoriter, dominan dan one man show, dikategorikan sebagai Stockholm Syndrome versi Psikologi Industri, sementara menempatkan tamu tertentu lebih istimewa dibanding tamu-tamu lainnya, merupakan sindroma versi Psikologi Sosial. Stockholm Syndrome adalah fenomena yang merugikan sistem secara keseluruhan. Bawahan yang menderita sindroma ini, karena atasan yang berperilaku otoriter, justru tidak membantu atasan dalam membuat keputusan yang baik. Tuan rumah yang mengistimewakan tamu tertentu justru membiarkan mereka dicemooh diam-diam oleh tamu-tamu lainnya. Check and balance adalah kuncinya, agar dunia ini selalu tetap berputar dengan ritmis dan selaras. Terima kasih, terima kasih, terima kasih. Selamat jalan Gus, saya banyak belajar dari anda.

Komunikasi Dan Relasi

Bang Kekeng adalah tetangga saya yang berprofesi sebagai tukang pijat yang handal. Setiap hari dia menerima tak kurang dari 5 panggilan untuk memijat, bahkan sampai ke kampung tetangga. Keahlian memijat, dia dapat dari kakeknya yang menularkan secara turun temurun, dan sudah kondang kawenang-wenang di seantero daerah kami, pinggir barat Jakarta. Karena dia seorang tuna rungu dan wicara, maka keahliannya memijat sering terkendala dalam hal berkomunikasi verbal dengan para pelanggannya. Tidak hanya itu, para tetangga selalu bermasalah bila dia datang saat kami ngrumpi di pos ronda atau warung kopi di kampung kami. Bila dia mulai nimbrung ngobrol, maka rusaklah suasana yang semula gayeng tanpa hambatan. Diskusi yang semula lancar dengan bahasa verbal yang mengalir spontan, dan tak jarang ditimpali dengan tertawa lepas tanpa kendali, terkendala karena kami harus melayani bang Kekeng berbicara melalui bahasa isyaratnya. Lain di pos ronda, lain di rumah. Saya pernah mengamati bang Kekeng berkomunikasi dengan isteri dan anak-anaknya di rumah. Pembicaraan berlangsung normal dan lancar, meskipun masing-masing menggunakan bahasanya sendiri-sendiri. Bang Kekeng menggunakan bahasa isyarat plus suara-suara sengau yang tak bisa dimengerti orang normal, isteri dan anak-anaknya menggunakan bahasa orang normal. Bahasa Indonesia khas Betawi. Komunikasi sangat efektif dan berlangsung nyaris tanpa hambatan. Fenomena ini membuat saya heran. Orang yang sama sekali tidak mempunyai communication skill, dapat melakukan komunikasi dengan normal, lancar dan efektif. Dimana rahasianya?


Tiba-tiba saya teringat akan ucapan Ibu Prof. Dr. Dewi Matindas Psi, dosen mata kuliah Komunikasi Organisasi di Fakultas Psikologi UI. Dia mengajarkan bahwa kualitas (ber)komunikasi, 75% ditentukan oleh "relasi" dan sisanya oleh "kemampuan berkomunikasi" (communication skill). 2 orang tidak dapat menjalin komunikasi yang efektif, bila mereka mempunyai relasi yang tidak baik, meskipun masing-masing mempunyai skill yang tinggi. Sebaliknya, meskipun dengan skill yang pas-pasan, orang akan tetap dapat menjalin komunikasi yang efektif asalkan relasinya cukup baik. Bang Kekeng adalah contohnya. Meskipun dia tuna rungu dan wicara, kualitas komunikasi yang dijalin dengan isteri dan anak-anaknya tetap terjaga. Sebaliknya, proses komunikasi bang Kekeng dengan para tetangganya selalu terkendala, karena memang relasi antara dia dengan kami tidak terjalin dengan baik. Para tetangga selalu mempunyai premature assumption yang muncul tiba-tiba, begitu bang Kekeng datang. Kami selalu menganggap bahwa kedatangannya di pos ronda bakalan menganggu obrolan yang sedang dilakukan. Itulah yang membuat komunikasi para tetangga dengan bang Kekeng langsung tertutup. Contoh lain yang sering terjadi adalah bila suami-isteri sedang berantem. Pada saat seperti itu, komunikasi langsung blocked. Apa saja yang diucapkan satu pihak ditangkap salah oleh pihak lain. Hati yang tertutup akan membuat komunikasi juga tertutup, dan akan lancar bila kedua hati sudah saling bertaut kembali.



Ada contoh lain yang membuktikan bahwa communication skill bukan merupakan syarat utama untuk menjalin komunikasi. Bila kita mempertemukan 2 anak kecil yang berbeda bahasa, maka komunikasi akan berjalan. Mereka akan tetap berkomunikasi dan bermain bersama meskipun masing-masing tidak bisa memahami bahasa kawannya. Masing-masing akan berbicara dengan bahasanya sendiri, yang saling tidak dimengerti. Tapi herannya, pembicaraan mereka terus menyambung. Mengapa demikian? Karena jiwa anak-anak adalah suci. Tanpa pretensi, tanpa premature assumption, tanpa curiga dan tidak merasa saling mengancam. Mereka mempunyai hati yang tulus dan jauh dari syak-wasangka. Itulah sebabnya, kualitas komunikasi mereka sangat tinggi dan efektif, meskipun masing-masing tidak mempunyai skill yang dibutuhkan untuk berkomunikasi.



Kalau memang benar hasil penelitian para ahli organisasi mengatakan bahwa 80% masalah organisasi disebabkan karena masalah komunikasi, karena ketidak efektifan komunikasi yang dijalin, karena negative communication atau bahkan sering karena contra productive communication, maka kita harus bercermin kepada hubungan yang dilakukan bang Kekeng dengan isteri dan anak-anaknya. Komunikasi harus dimulai dengan relasi, atau tepatnya relasi yang baik antara 2 atau lebih orang yang harus berkomunikasi. Kita harus mencontoh 2 anak kecil yang berbeda bahasa, tetapi selalu membawa hati yang tulus, bersih dan tanpa pretensi. Komunikasi organisasi memang harus dilandasi dengan prinsip team-focus dan bukan ego-focus. Artinya, harus dilakukan tanpa menempatkan kepentingan diri diatas kerangka komunikasi itu sendiri. Oleh sebab itu, kalau anda merasa bahwa komunikasi anda dengan seseorang atau sekelompok orang tidak efektif atau justru kontra-produktif, maka hal pertama yang anda harus lakukan adalah membuka hati anda dan membersihkannya dari pretensi dan syak-wasangka yang selama ini bermukim di hati anda. Setelah itu baru mulailah berkomunikasi.


Effective Communication always contains excellent humane relationship.


Kegigihan Yang Dibutuhkan

Saya sedang menonton siaran TV di lounge BCA Bidakara, lantai 1, sambil menunggu pelayanan dari petugas customer service, ketika tiba-tiba seorang laki-laki sepuh yang duduk disamping, menegur saya. Terkesan dia berwajah oriental, badannya tegap dan langsing, tinggi sekitar 175 cm dan rambut masih tebal dan berwarna hitam pekat. Meskipun wajahnya cukup familiar, saya tak berhasil mengingat siapa dia. Tak terasa, pembicaraan kami menjadi semakin hangat dan bersemangat. Kami mendiskusikan hal-hal yang sedang in di masyarakat dengan tone suara yang tegas, penuh percaya diri, tetapi tetap ramah. Bapak tadi, tanpa sedikitpun kehilangan semangat, mencoba meng encourage saya, dan juga mungkin dimaksudkannya kepada seluruh bangsa Indonesia, untuk tetap optimis terhadap Negara kita. "Saat ini, banyak orang pinter, tapi sangat sedikit yang mencintai Negara ini". Kalimat ini membuat saya terhenyak dan spontan saya tukas. "Maaf pak, anda ini siapa?". Dengan nada yang semakin percaya diri, dia menjawab : "Saya Tan Joe Hok". Ada kekuatanan dari dalam yang menggerakkan saya untuk langsung berdiri, menghormat kepadanya dan mengulurkan tangan sekali lagi, untuk menjabat erat genggamannya. "Pak Tan, saya pengagum anda sejak 50 tahun lalu". Dan saat itu saya bertemu dengan idola saya yang reportase permainan bulutangkisnya, hanya saya dengar dari siaran RRI. " I am proud of you pak".

Tan Joe Hok memang salah satu legenda bangsa ini. Ketika Indonesia, yang dianggap masih hijau, tiba-tiba mengagetkan olahraga bulutangkis dunia dengan menjuarai All England pada tahun 1959. Dan pahlawan itu bernama Tan Joe Hok. Joe Hok, penyandang minoritas ganda di Tanah Air tercinta ini, ternyata mampu membuktikan bahwa Indonesia mempunyai pejuang kelas dunia, dengan mengalahkan pemain-pemain bulutangkis legandaris dunia, Erland Kops dan Finn Kobbero dari Denmark. Prestasi dunia Joe Hok bermula dari kejuaraan beregu Thomas Cup, 1 tahun sebelumnya, ketika regu Indonesia mengalahkan Malaya (sebelum Negara itu berubah nama menjadi Malaysia) dengan skor telak 6-3. Tan Joe Hok, mahasiswa Jurusan Teknik Kimia, Universitas Baylor, Texas, Amerika, harus membiaya dirinya sendiri, untuk pulang kampung dan membela Tanah Airnya, sebagai duta bangsa di ranah bulutangkis dunia. Setelah itu, masih ada beberapa seri kejuaraan Thomas Cup dan All England yang dijuarainya sampai kemudian dia menjadi pelatih profesional di Meksiko dan Hongkong. Tan Joe Hok mempunyai banyak sweet memory dalam menggeluti olahraga bulutangkis di arena dunia, termasuk dengan Bung Karno, Presiden RI pada waktu itu. Setelah tim Indonesia berhasil menjadi juara Thomas Cup 1961 di Jakarta, Joe Hok segera kembali ke Texas untuk meneruskan kuliahnya dan menyadari bahwa Bung Karno telah mengirim amplop berisi uang USD 1.000,-. Suatu jumlah uang yang besar untuk waktu itu. Tapi apa yang dilakukannya? Melalui Prof Dr Prijono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Joe Hok mengembalikan amplop tersebut utuh, kepada si pengirim. Ya, si pengirim itu adalah Bung Karno, Presiden republik Indonesia, Pemimpin Besar Revolusi. "Saya sangat menghormati penghargaannya, tetapi banyak anak bangsa lainnya yang lebih membutuhkan beasiswa itu dibanding saya. Saya jauh lebih beruntung dibanding mereka". Saya tidak bisa membayangkan hal itu akan terjadi hari ini.



Tan Joe Hok telah memenuhi semua hal untuk menjadi outliers seperti yang disyaratkan oleh Malcom Gladwell dalam buku best seller Outliers. Dia mempunyai bakat, kegigihan, kecerdasan, dukungan, kerja keras dan kesiapan untuk beruntung. Satu yang menonjol yang dimiliki Tan Joe Hok, bahkan sampai saat ini adalah perseverance. Kegigihan bercampur dengan ketekunan untuk mencapai suatu hasil yang luar biasa. Sulit untuk dibayangkan bahwa Tan Joe Hok akan menjadi legenda bulutangkis Indonesia dan dunia kalau sejak muda dia tanpa kegigihan dan ketekunan. Gigih untuk terus menyiapkan diri menjadi yang terbaik dan tekun untuk tidak cepat menyerah bila mengalami kegagalan. Perilaku ini, ternyata juga menjadi salah satu hal yang tertera di MedcoEnergi Leadership Statement. Suatu perilaku yang harus ditampilkan agar tata-nilai Profesional bisa terwujud. Suatu kebiasaan yang harus otomatis keluar bila kita menghadapi tantangan. Dan kebiasaan yang harus selalu ditanamkan kepada seluruh anggota organisasi. Saya manggut-manggut, tanda setuju, ketika membaca kutipan seorang satrawan besar Inggris, Samuel Johnson tentang hal ini : Great works are performed not by strength but by perseverance.



This Is It

Sabtu, 14 November 2009, pukul 10.30, saya baru saja mendarat di bandara Soekarno-Hatta. Sambil berjalan dari pesawat ke terminal kedatangan, saya menyalakan HP, ketika tiba-tiba, ada pesan pendek masuk. Telah terjadi major accident di lapangan Soka, Sumatera Selatan. Free Water Knock Out meledak pada pukul 10.58 dan mengenai operator yang kebetulan sedang berdiri didekatnya. Pemompaan minyak dihentikan dan korban mengalami luka bakar parah. Hampir 70% anggota badannya melepuh hangus terkena ledakan. Rio Astomo, demikian nama korban yang naas tersebut, sedang diusahakan untuk diterbangkan ke RS Charitas Palembang dengan helikopter sewaan. Tak urung, saya sibuk menelpon kesana-kemari untuk mencari informasi tambahan sambil mengirim laporan kepada mereka yang berwenang. Saya masih sempat booking pesawat untuk ke Palembang sore harinya, sebelum akhirnya Operation Manager Soka mengirim laporan bahwa kejadian itu merupakan latihan penanggulangan kecelakaan. Drill untuk mengetahui kesiapan dan kesigapan semua personel dalam menghadapi kecelakaan yang moga-moga tidak terjadi.

Drill atau latihan seperti ini, mutlak diperlukan dalam menjalankan bisnis. Ia akan membiasakan kita secara otomatis beraksi, apabila menjumpai suatu kondisi tertentu yang memerlukan suatu reaksi. General Rehearsal atau gladi resik akan melahirkan reaksi yang spontan tapi terencana, penuh perhitungan dan sesuai prosedur yang berlaku, dan akan sangat membantu managemen memenuhi kebutuhan, tantangan atau ancaman yang ada. Skenario serupa saya tonton di film This Is It. Michael Jackson yang sudah lebih dari 8 tahun tidak tampil dalam konser musik, akhirnya memutuskan untuk turun gunung. Konser akbar yang akan digelar di stadium O2, London merupakan konser perpisahan sang bintang di dunia show biz, sebelum akhirnya dia merencanakan untuk pensiun dan beralih ke dunia sosial. Konser di O2 menjadi awal dari road show untuk melengkapi 50 konser berikutnya, yang tiket masuknya sudah habis dalam waktu hanya 3 hari. Untaian konser yang menelan dana USD 20 juta dan digawangi oleh AEG Live sebagai produser dan penyandang dana.


Film This Is It merupakan film dokumenter yang menyajikan suatu kisah nyata, bagaimana MJ, begitu Michael Jackson biasa dipanggil, yang didukung oleh lebih dari 300 crew, melakukan latihan-latihan selama hampir 6 bulan. This Is It, yang diambil dari judul untaian konser penutup sang bintang, di terbitkan ke publik, ketika ternyata MJ kena serangan jantung dan meninggal dunia 1 bulan sebelum konser digelar. Ironis memang, tapi MJ tetaplah seorang super star, seorang King of the Pop yang meskipun akhirnya meninggal sebelum konser terwujud, tetap menjadi headline dari media masa seluruh dunia, sampai hari ini. This is it memang bermakna "Inilah puncaknya". Puncak kehidupan seorang sang bintang.


Kalau orang melihat This Is It sebagai sebuah film musik, atau film entertainment, saya justru melihatnya sebagai sebuah film Manatainment. Film tentang managemen yang dikemas dengan musik dan aksi panggung, dan dipamerkan dengan prinsip-prinsip managemen yang benar. Sebuah pertunjukan film yang menggambarkan bagaimana sebuah industri dikelola, sebuah program direncanakan dan sebuah cita-cita harus diwujudkan. Dimulai dengan proses recruitment, ketika 300 pelamar dari Australia, Asia, Eropa dan tentunya Amerika, atas biaya sendiri, mengajukan diri untuk menjadi penari latar sang bintang. Mereka berbondong-bondong datang dan dinilai oleh suatu scouting team dalam suatu audisi yang terstruktur, profesional, dan transparan. Hanya 8 dari mereka yang diterima dan hasilnya memang they are the top eight dancers dari seluruh dunia. Proses recruitment untuk sebuah show biz, dilakukan dengan prinsip-prinsip managemen moderen yang patut ditiru. Hal yang sama dilakukan untuk menjaring pemain musik, penata cahaya, penata panggung, kreografer, dan seluruh anggota tim lainnya.


Recruitment barulah suatu awal dari proses managemen yang dipamerkan. Masih ada proses-proses managemen lainnya yang mengikutinya. Trainning, developing, coaching, innovation, professionalism, decision making dijalankan dengan sangat saksama. Bahkan Kenny Ortega, sang pemimpin AEG Live mempertunjukkan bagaimana safety harus menjadi prioritas utama dari suatu proses produksi. Ketika skenario pertunjukan mengharuskan MJ naik keatas crane yang diangkat setinggi 5 meter diatas permukaan tanah, Ortega memulainya dengan safety talk dan beberapa kali berteriak agar MJ selalu pegangan hand rail sesuai dengan SOP yang ada. Itu belum cukup. MJ rencananya menyanyikan tangisan masyarakat karena lingkungan dan alam yang dirusak oleh industri lainnya. Dalam lagu yang berjudul Earth Song, MJ merintih dan setengah protes, mengapa hutan di Amozon ditebang dan dihabiskan atas nama keserakahan manusia. Lengkap sudah aspek-aspek managemen yang diperlihatkan MJ dalam mengelola organisasinya. MJ ibarat Presiden Direktur yang memimpin timnya dalam mewujudkan konser yang diidam-idamkan.


Ada 3 hal yang saya garisbawahi ketika MJ bertindak sebagai atasan. Pertama, dia mempunyai visi yang kuat dan dapat dilihat oleh seluruh anggota organisasi. Anggota tim dapat menangkap apa yang menjadi cita-cita MJ dalam konsernya kelak. MJ mempunyai drive yang tegas, tetapi dinyatakan dalam kalimat-kalimat yang sangat santun dan friendly. Lebih dari kesantunan seorang priyayi Solo. Kedua, ketika MJ melakukan kesalahan, atau bahkan ketika sekedar salah paham, dia selalu meminta maaf kepada anak buahnya. Saya mencatat MJ mengeluarkan lebih dari 25 kali kata-kata I'm sorry, sambil menjelaskan mengapa "kesalahan" ini terjadi. Yang paling istimewa, MJ me-recognize anggota timnya yang sukses dengan kalimat yang sangat agamis, God bless you. Saya tidak habis pikir, bagaimana ketiga hal tersebut diatas bisa keluar dari seorang super star seperti MJ, yang lahir dan besar di Amerika.


Industri, apapun jenisnya, dimanapun mereka beroperasi, dan siapapun pelakunya ternyata harus menerapkan prinsip yang sama. Teori managemen moderen mensyaratkan kita untuk menganut pendekatan yang serupa. MJ telah mengajarkan kepada kita bagaimana sebuah industri dikelola, bagaimana anggota-anggota tim diperlakukan sebagai sesama manusia dengan pendekatan yang manusiawi. Masih teriang-iang ditelinga saya suara MJ yang menyentak-nyentak ketika menyayikan lagu Beat It. Beat it….beat it…..