Selasa, 27 April 2010

Arisan Kampung, Tukang Bajay, dan Roseto-Pennsylvania

Saya ikut arisan bapak-bapak di kampung saya, Pondok Betung, Tangerang Selatan. Rumah saya memang berlokasi disuatu kampung yang dihuni mayoritas kaum Betawi. Saat ini, pendatang sudah mulai banyak disana-sini, yang umumnya berasal dari Jawa, Sumatera-Barat, Sumatera-Utara dan Indonesia-Timur, meskipun etnis Betawi masih tetap dominan. Tingkat ekonomi masyarakat, umumnya menengah kebawah. Pendidikan formalnya juga kebanyakan rendah, sehingga tidak heran kalau kadang terjadi benturan antara pendatang dan penduduk asli. Kegiatan arisan adalah sarana untuk mengurang konflik antar tetangga plus mempererat silaturakhmi antar warga. Arisan diadakan setiap bulan, dengan iuran hanya Rp 15,000 per peserta. Jumlah peserta sekitar 30, sehingga mereka yang beruntung narik-arisan, membawa uang Rp 300,000 setelah dikurangi biaya konsumsi.

Demografi anggota-anggota arisan sangat beragam. Ada yang berasal dari Jawa, Minang, Batak, Flores dan juga Betawi. Profesinya beraneka-warna dari beberapa profesional yang berkantor di segitiga emas Thamrin-Sudirman, guru, sampai kuli bangunan, tukang batu, tukang ojeg, tukang jahit, tukang roti, dan tukang bajay. Meskipun kami berasal dari pelbagai strata sosial, etnis, dan agama yang sangat beragam, tetapi tidak setitikpun kami mengalami kesulitan dalam bergaul. Kami bercanda lepas, ledek-meledek dengan bebas, dan sering berdebat suatu topik "tingkat tinggi" yang kadang tak jelas juntrungan nya. Para anggota kadang serius membicarakan masalah got mampet, jalan berlubang, tukang gantol listrik PLN, sampah bau, comberan, demam berdarah, sampai dengan enteng ngurusi politik nasional maupun internasional seperti Presiden Obama, perang Palestina-Israel, bahkan bahaya bom nuklir. Gayeng, itulah istilah yang tepat untuk menggambarkan pertemuan 2-3 jam tiap bulan di salah satu rumah anggota, yang kadang harus nongkrong diatas got yang ditutup selembar tripleks, karena rumah kontrakannya nggak cukup untuk dikangkangi para peserta arisan.


Ada beberapa kebiasaan bagus yang terus kami pelihara, diantaranya adalah berdoa sebelum dan sesudah pertemuan. Hebatnya, doa dipimpin oleh mereka yang sering kami juluki Kyai atau Pendeta, secara bergantian. Kalau awal pertemuan dibuka dengan doa oleh pak Haji Nasum, maka acara ditutup doa oleh pak Franky Sihombing, jemaat HKBP yang guru Bahasa Inggris di suatu SMP Negeri. Begitu bergantian secara saksama, tanpa ada yang pernah mengatur dengan sengaja. Dan hebatnya, seluruh hadirin ikut mengamini ketika doa ditutup, tanpa melihat agama dari pemimpin doanya. Apabila ada anggota yang sakit, anggota lain ramai-ramai berkunjung sambil membawa buah-tangan sebagai tanda simpati. Khusus untuk arisan yang dekat dengan hari raya keagamaan, acara diadakan sambil Halal bi Halal atau Natalan. Beberapa tahun yang lalu, ketika Lebaran dan Natal tiba pada hari-hari yang berdekatan, maka Halal bi Halal dan Natalan pun diadakan pada malam yang sama. Pak Haji Nazir dari Minang memberikan tausiah dan mas Paulus Purnomo dari Sragen menutup dengan doa ucapan terima kasih. Sedikit perbedaan yang terjadi adalah dalam melafalkan nama Allah. Haji Nazir lebih berat mengucapkannya dibanding mas Pur. Tetapi kami yakin bahwa yang dimaksud adalah Allah yang sama dan satu. Semuanya berjalan lancar tanpa ada yang mempertanyakan, sampai sekarang.


Salah satu anggota arisan yang aktif adalah pak Kuat, dari Wonogiri. Profesi resminya tukang bajay, tetapi dia mempunyai banyak sambilan yang dioperasikan bersama-sama mbak Mul isterinya. Diantaranya adalah buka warung kelontong dan salon kecantikan, Oche. Rumahnya tidak luas, bertingkat dua dan ditata dengan apik. Warung Kuat dan salon Oche sangat laris karena dilayani dengan ramah dan tentu saja murah. Nama Oche, diambil dari anaknya yang sulung, yang sedang kuliah semester 6, jurusan IT, di sebuah universitas swasta di Jakarta Selatan, sedangkan si bungsu, Mario, mahasiswa Fakultas Hukum di universitas lainnya. Si sulung berangkat kuliah naik kendaraan umum sambil tentu saja menenteng laptop, sedangkan Mario mengendarai motor Yamaha yang mengkilat. Mereka hidup bahagia, meskipun dijalani dengan sederhana sambil tetap kerja keras. Beberapa kali, pak Kuat istirahat malam hari, di pos ronda, saya terkadang nimbrung menemani. Dari situ saya tahu bahwa pak Kuat tidak lulus SD dan datang ke Jakarta ketika baru berumur 15 tahun, ikut pakliknya di Kebayoran Lama. Pak Kuat merangkak dari bawah, mulai dari kuli angkut pasar, kuli bangunan, tukang batu, makelar bis, sampai akhirnya bisa beli bajay dan mendapat jodoh mbak Mul yang sama-sama dari Wonogiri. Kedua anaknya memang dinamai lebih modern, katimbang nama asli bapak dan ibunya, dengan harapan si anak bisa lebih PD, bahkan mereka memanggil kedua orang tuanya dengan sebutan papi-mami. Mungkin mendapat inspirasi dari anak-anaknya Anang-KD yang memanggil bapak-ibunya dengan sebutan pipi-mimi. Di mata saya, keluarga Kuat adalah idealisasi keluarga Indonesia, atau Jawa khususnya, yang berhasil memenangkan pertarungan hidup yang sangat keras, hidup rukun, sehat, damai dan bahagia. Cita-citanya jelas, perjalanan hidupnya sangat terjal dan dilakoni dengan penuh passion. Keluarga Kuat memang sangat jauh dari bergelimangan harta, tetapi mereka menjadi contoh bagi siapa saja, bagaimana hidup harus dijalani.


Menghayati lakon pak Kuat dan kebiasaan arisan di kampung saya, teringat suatu cerita tentang suatu kota kecil di daerah Pennsylvania, Amerika. Namanya Roseto. Nama yang sama juga dimiliki oleh sebuah kota kecil di Italia, Roseto Valfortore. Roseto-Italia, berada 100 mil sebelah tenggara Roma, di kaki pegunungan Apennine, provinsi Foggia. Memang benar, penduduk Roseto-Amerika merupakan imigran Italia, yang dipelopori oleh hanya 11 paesani (penduduk) Roseto Valfortore pada tahun 1882. Semula mereka terdampar di kota Bangor, Pennsylvania, sebelum berhasil membangun perumahan disisi pegunungan batu yang hanya bisa dicapai oleh kereta kuda, karena jalanan yang curam dan mengerikan. Pendek cerita, setelah segelintir paesani Valfortore mulai menampakkan tanda-tanda kesuksesan, berbondong-bondong bangsa Italia, ex Roseto-Italia hijrah ke Pennsylvania, dan menamakan kota barunya dengan nama yang persis sama dengan kota lamanya, Roseto. Bahasa yang dipakai hingga sekarang, tetap Italia, bahkan mereka menamai jalan-raya dengan nama pahlawan Italia, Garibaldi. Tidak hanya itu, mereka membangun gereja Katolik, yang dijadikan pusat kegiatan kaum imaigran Italia di Amerika, dan menamainya Our Lady of Mount Carmel, persis dengan gereja yang ditinggalkannya, ratusan tahun lalu.


Ada informasi yang mencengangkan tentang kesehatan warga Roseto. Statistik penyakit, termasuk jantung, sangat rendah. Dibawah umur 55 tahun, tidak ada orang yang terkena serangan jantung. Diatas 65 tahun, statistik serangan jantung hanya separuh dari angka rata-rata seluruh Amerika dan tingkat penyakit seluruh penduduk Roseto sepertiga angka keseluruhan Amerika. Seorang dokter ahli kesehatan masyarakat, Stewart Wolf, didampingi sosiolog John Bruhn tertarik melakukan penelitian atas "kehebatan" penduduk Roseto menangkal penyakit. Hal pertama yang ditembak oleh duet Wolf-Bruhn adalah pola makan mereka. Anehnya, Wolf-Bruhn menemukan kebiasaan warga Roseto untuk menyantap makanan dengan tinggi kalori dan lemak. Mereka biasa menggunakan lemak babi dan bukan minyak zaitun seperti yang dipakai untuk memasak leluhurnya di Roseto-Italia. Piza merupakan santapan utama yang diramu dari roti, garam, ditambah sosis, pepperoni, salami, ham yang dicampur telur. Sudah pasti bahwa pola makan bukan faktor yang membuat mereka sehat. Selain itu, olahraga juga bukan merupakan kebiasaan warga Roseto. Mereka lebih senang duduk-duduk dibelakang rumah, sambil ngobrol-ngidul, mengisi waktu luang dengan keluarga dan tetangga. Plus kenyataan bahwa merokok adalah kebiasaan sehari-hari dan obesitas terjadi di banyak keluarga. Faktor lain yang "mengacaukan" penelitian Wolf-Brauhn adalah catatan kepolisian tentang sangat rendahnya kasus bunuh diri, narkotika dan angka kriminalitas lainnya. Wolf-Bruhn kehabisan akal mencari sebab mengapa warga Roseto hidup sehat, kurang penyakit dan umur panjang, apalagi kemudian diketemukan bahwa leluhur mereka di Italia tidak mempunyai ciri yang sama. Sampai akhirnya Wolf-Bruhn mencatat bahwa warga Roseto mempunyai kebiasaan silaturahmi yang kental. Ngobrol dan saling kunjung sambil munjung adalah kebiasaan yang terjadi dimana-mana. Mereka membangun rumah tinggal yang besar untuk cukup ditinggali tiga generasi keluarga dan hormat kepada para pinisepuh dibiasakan sejak kecil. Mereka rajin ikut misa-harian di Our Lady of Mount Carmel yang rupa-rupanya menjadi pemersatu dan pendamai masyarakat. Etos egaliter menjadi budaya dalam komunitas yang menjadi sebab mengapa orang kaya tidak pamer dan membesarkan hati orang-orang gagal merupakan suatu ibadah.


Wolf-Bruhn mengalami kesulitan ketika harus mempresentasikan penelitiannya kekalangan dunia universitas. Teori kedokteran Amerika, pada waktu itu, belum mengakomodasi tentang faktor-faktor kejiwaan yang suportif, saling mendukung, silaturahmi, saling bantu-membantu, hidup bahagia adalah kunci dari hidup sehat, damai dan panjang umur. Sampai akhirnya disepakai pada sidang kedokteran kota bahwa hidup sehat harus dikaitkan dengan kebiasaan untuk melihat keluar dan tidak hanya berkutat pada diri sendiri seperti pola makan dan pola hidup. Persis seperti yang dapat disimak di Hadits Riwayat Bukhari bahwa silaturahmi dapat dilapangkan rezekinya, hidup sehat dan diakhirkan ajalnya (panjang umur).


Anda ingin sehat seperti warga Roseto? Hiduplah senantiasa dengan silaturahmi.



Note : Cerita tentang kota Roseto disadur dari buku Outliers, karangan Malcolm Gladwell


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar