Selasa, 27 April 2010

Brain Gain : Medco Juara II MAKE Award

Koran Tempo terbitan 18 Agustus 2009, dalam Edisi Khusus Kemerdekaan, membuat saya terhenyak tak habis pikir. Dalam Liputan Khusus berjudul : "Merantau : Kisah Jenius Kita di Negeri Orang", Tempo menceritakan mengenai kesuksesan spektakuler dari ilmuwan-ilmuwan Indonesia di negeri maju, seperti Amerika, Eropa dan Jepang. Bahkan juga ada cerita sukses mengenai pelatih bulutangkis Indonesia di Malaysia dan Amerika. Tokoh pertama yang patut disebut sebagai Bintang Jenius Indonesia adalah Profesor Nelson Tansu. Ia adalah pemuda "ingusan", yang saat ini belum genap berusia 32 tahun, telah digelari Guru Besar di Universitas Lehigh, Pennsylvania, Amerika Serikat, 7 tahun yang lalu di bidang Teknologi Nano, fokus pada bidang eksperimen mengenai semikonduktor berstruktur Nano. Bahkan ketika kita di Indonesia pun masih belum "ngeh" mengenai apa itu Nano, Tansu, pemuda penyandang minoritas-ganda, asal kampung Tanjung Morawa di Sumatera Utara tsb, telah kondang kawenang-wenang, di pusat Teknologi dunia.

Ternyata Prof Tansu tidak sendirian, Ada sederetan nama sangat kinclong yang contohnya dapat disebutkan disini, seperti Prihardi Kahar PHd., 36 tahun ahli bioteknologi di Meisei University, Jepang; Dr Sidik Permana, 31 tahun, ahli perancang reaktor nuklir di Ibaraki, Jepang; Arief Budiman PHd, ahli genetika sel kanker di Saint Louis, Missouri, Amerika Serikat; Dr Johny Setiawan, 35 tahun, ahli astronomi di Max Palnk Institute for Astronomy, Heidelberg, Jerman; sampai ke kehebatan Rexy Mainaky dan Tony Gunawan sebagai pelatih bulutangkis yang sukses di Malaysia dan Amerika, hingga ketenaran global Anggun C Sasmi sebagai penyanyi tingkat dunia di Perancis. Tempo menceritakan tak kurang dari 20 warga Negara Indonesia yang berkiprah secara menakjubkan di dunia internasional. Tapi, apakah ini sesuatu hal yang menggembirakan ? Ternyata tidak. Dalam ulasan berikutnya, Tempo menceritakan bahwa beberapa Negara Asia lainnya, seperti China, India, Pakistan bahkan Malaysia, secara sengaja dan terencana telah mencetak puluhan kali lebih banyak tenaga-tenaga ahlinya dibanding Indonesia untuk menduduki pos-pos kunci di negara-negara maju. Tiap tahun, India menargetkan lebih dari 1000 pelajar berbakatnya untuk meneruskan kuliah S1 hingga S3 di negara-negara maju. Tak heran bila mereka sukses memindahkan Silicon Valley di jantung industri digital Amerika ke Bangalore, India. Cina selalu mengirim bersorti-sorti pelajar berbakat untuk belajar di pusat riset dan pendidikan dunia. Idem ditto dengan Malaysia, meskipun dengan skala yang lebih kecil. Kata kuncinya adalah mereka meraih itu semua dengan suatu program yang terencana, terstruktur dan bertarget, sementara jawara Indonesia, yang jumlahnya jauh lebih kecil berhasil karena usahanya sendiri minus rencana pemerintah yang terstruktur dengan rapi. Mereka adalah pemain alam yang kebetulan mempunyai kesempatan dan factor luck yang tidak didapat oleh berjuta-juta warga negara Indonesia berbakat lainnya. Diperkirakan dari 7.5 juta orang berbakat hebat di Indonesia, 99% nya menjadi orang biasa saja.

Prof Dr Umar Anggara Jenie, Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Guru Besar Universitas Gajah Mada, mengemukakan adanya 3 istilah untuk menanggapi fenomena diatas, yaitu Brain Drain, Brain Circulation, dan yang terakhir adalah Brain Gain. Prof Jenie mengutip bahwa, Brain Drain tidaklah terlalu harus dirisaukan, karena sudah menjadi kodrat seorang ilmuwan, untuk mencari tempat yang paling kondusif untuk mengembangkan keilmuan mereka. Bahkan menurut Prof Dr Mashelkar, Direktur LIPI nya India, Brain Drain tidak ada, melainkan lebih tepat disebut sebagai Brain Circulation. Bahkan harus ada institusi resmi, dalam hal ini Negara yang bisa mengelola dan mengubah Brain Circulation menjadi Brain Gain.

Dalam Renungan Akhir Minggu beberapa waktu yang lalu, saya pernah mengangkat topik berjudul : Bakat Luar Biasa, yang memprihatinkan cara-cara kita mengelola pengembangan anak-anak Indonesia yang sebetulnya berpotensi luar biasa. Dalam level MEPI, pengelolaan-pengembangan (development management) bagi "manusia-manusia hebat" di MEPI masih harus terus diupayakan penyempurnaannya. Keluhan disana-sini sudah mulai terdengar bahwa dalam banyak titik, kita masih kurang mempunyai aktivitas yang disengaja, terstruktur, dan bertarget untuk Brain Power kita di MEPI. Saya merasa bangga dan terharu, sekaligus prihatin, ketika MEDCO dinobatkan menjadi juara kedua MAKE AWARD seluruh Indonesia, dan berhak mewakili Indonesia di kejuaraan Knowledge Management, se Asia Tenggara. Bangga, karena orang lain, ahli-ahli Manajemen-Pengetahuan Indonesia menilai MEDCO sebagai institusi yang sudah berhasil mengelola Brain Power nya untuk menjadi Brain Gain, sementara prihatin, karena keluhan-keluhan di lapangan mengenai hal ini makin sering terdengar. Pak Silmi Duski, Senior Manager SFED mengatakan di depan pak BB dan pak EBS bahwa kita saat ini tidak mempunyai foreman competency, yaitu kekuatan teknik-lapangan yang bener-bener hands on dan secara otomatis menularkannnya kepada anggota grupnya. Suatu Brain Gain sederhana yang dicita-citakan pak Silmi bahkan belum terwujud. Mengelola dan mengajarkan "bekerja tangan" atau "bekerja kotor" secara terstruktur dan otomatis nampaknya masih menjadi impian. MAKE AWARD secara ceremonial memang sangat perlu. Bangga dan terharu memang bisa menjadi spirit untuk maju, tetapi yang jauh lebih penting adalah bagaimana kita semua bisa duduk bersama memikirkan agar MEDCO bisa mengelola Brain Drain menjadi Brain Circulation dan bahkan menjadi Brain Gain, dan bukan malahan menjadi Brain Stop. Itulah yang sekarang dikenal sebagai Knowledge Management.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar